We Shall Overcome

We shall overcome, we shall overcome,
We shall overcome someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall overcome someday…..

we_shall_overcome_01

Lagu protes ini telah mendunia. Bukan hanya dinyanyikan dalam gelombang pasang tuntutan aspirasi hak-hak sipil dan penolakan politik ‘apharteid’ di mimbar-mimbar dan jalan-jalan di Amerika Serikat sejak awal tahun 1960-an. Tapi juga bahkan sering terdengar dinyayikan oleh para aktivis gerakan mahasiswa generasi 90-an di Indonesia ketika menuntut pergantian rezim otoriterianisme menjadi rezim demokrasi di zaman Orde Baru. Biasanya dulu dinyanyikan sebagai himne penutup aksi. Selain lagu Darah Juang yang selalu sanggup mengharu biru, lagu bercorak himne ini juga mampu mencipta kesahduan berbalut rasa optimistik sekalipun dinyanyikan di tengah-tengah teriknya sengat matahari.

Kata demi kata lagu ini disusun dengan pilihan kata yang lugas, liriknya cenderung sederhana, tapi meski demikian ini adalah salah satu himne yang paling berpengaruh dalam masyarakat berbahasa Inggris. Kebanyakan orang mengenal lagu ini dinyanyikan dan diciptakan oleh Joan Baez.

Ya, itu tak sepenuhnya salah. Joan Baez adalah penyanyi yang berhasil mempopulerkan lagu itu sehingga mendunia. Dia pernah memimpin 300.000 massa bernyanyi bersama “We Shall Overcome” di depan Lincoln Memorial, Washington pada tahun 1963. Tapi ia bukanlah penggubahnya.

Dulu ia menyanyikan lagu ini sambil berdemontrasi, berjalan kaki sambil bergandengan tangan, turun ke jalan bersama tokoh terkemuka Martin Luther King. Pada masa itu kira-kira usia Joan Baez baru menginjak 20-an tahun lebih sedikit. Dengan lagu itu ia memberikan semangat kepada para pejuang gerakan hak-hak sipil, bahwa suatu saat nanti kita pasti akan menang dalam perjuangan menuntut persamaan hak kulit hitam dan putih. We shall overcome someday.

Dan hal itu kini terbukti, Barack Obama adalah orang keturunan Afrika-Amerika pertama yang berhasil menjadi Presiden Amerika ke-44. Bayangkan, butuh waktu kurang-lebih dua seperempat abad lebih semenjak deklarasi kemerdekaan Amerika barulah bangsa multietnis dan multikultur yang selalu mendaku sebagai “guru demokrasi” bagi negara-negara lain itu, bisa legawa menerima orang di luar kulit putih memimpin negaranya.

Satu tahun berselang sejak pengangkatan Presiden Barack Obama. Pada 9 Februari 2010, “We Shall Overcome” kembali bergema dinyanyikan oleh Joan Baes untuk mengenang bulan-bulan sejarah hitam di Amerika. Acara bertajuk “In Performance at the White House: A Celebration of Music from the Civil Rights Movement,” jelas tak lagi dinyanyikan di jalan-jalan atau mimbar-mimbar kampus laiknya momen empat puluh tahunan lalu, kali ini panggungnya justru di istana negara yang populer disebut Gedung Putih dengan diiringi orkesta kecil.

Ya, Joan Baez menyanyikannya di depan Presiden sekaligus diikuti nyanyi bareng oleh Presiden serta kalangan elit lain. Obama terkesan sangat khusuk. Dia menyanyi sambil sesekali memejamkan mata tanda menghayatinya. Dalam pembukaan acara itu Obama menceritakan bagaimana peran penting sebuah musik dalam sejarah gerakan hak-hak sipil di Amerika. Mengutip pernyataan anggota Kongres John Lewis, Obama mengatakan “For in the darkest hour, songs fed our spirits, gave us hopes.”

mm

Rinanda

Hobi jalan-jalan dan jajan. Bercita-cita punya butik.