Wawancara dengan Valentino Rossi: “Marquez itu Asu!”

B

ara ketegangan hubungan Valentino “The Doctor” Rossi dan Marc “Baby Alien” Marquez menyala sejak VR46 melontarkan tudingan di Phillip Island, 18 Oktober 2015, bahwa Marquez sengaja “menolong” Jorge “Por-Fuera” Lorenzo, rider senegaranya, dengan cara “menghalangi” Rossi untuk naik podium. Jadilah Lorenzo finish di depan, diantarai Andrea Iannone di posisi tiga, baru Vale di posisi empat. Gap angka antara Vale dan Lorenzo mendekat. Inilah akar kekecewaan Rossi pada Marquez.

Ketegangan ini mencapai klimaks di Sepang, Malaysia, 25 Oktober 2015 lalu. Terjadilah insiden crash yang menyebabkan Marquez mencium aspal setelah “bersenggolan” dengan motor Rossi. Drama konflik sirkuit ini menjadi lebih heboh lantaran ditingkahi video “gerakan kaki kiri” Rossi yang mengesankan adanya tendangan ke motor Marquez.

Lalu, seperti biasa, kaum kampret ngehek di sosmed yang aslinya tak tahu apa-apa, hanya biar aktual-kekinian, menebar status dan share bahwa Rossi sengaja menendang Marquez. Cemooh pun berlontaran bagai ribuan anak panah ke tubuh Rossi.

Waktu lalu menjawab bahwa tendangan itu tak pernah ada. Keputusan resmi race director, Mike Webb, mestinya sudah lebih dari cukup bagi kita semua untuk memahami kejadian yang sebenarnya. Tetapi, ya, seperti tuturan Aditia Purnomo yang sangat ingin menjadi Dipa Nusantara Aidit, bahwa “Pasar sangat bisa diciptakan seperti cinta yang pula bisa diciptakan”, kebencian pun teramat mudah untuk diciptakan. Sekaliber Repsol, wakil presiden Honda Racing Team, Shuhei Nakamato, dan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, turut terseret tudingan tak berkesudahan itu. Tentu, jangan pernah lupakan lembe nyinyir Lorenzo. Di titik inilah kiranya terletak alasan paling logis untuk apa surga dan neraka diciptakan oleh Tuhan.

Webb telah menegaskan bahwa dugaan tendangan itu tak bisa dibuktikan. Rossi dihukum penalti 3 poin hanya lantaran melanggar pasal “mengendara dengan tidak bertanggung jawab”, yang menyebabkan Marquez terdorong ke gravel dan membayakannya. Pihak Yamaha-Rossi sudah mengajukan banding atas sangsi itu ke race director, tapi ditolak. Lalu dilanjutkan ke FIM (Federation International Motorcycle), juga ditolak. Terakhir, Rossi mengajukan gugatan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), dengan harapan bisa start sesuai hasil kualifikasi di race terakhir di Valencia.

Sudah pasti, dengan jejak rekam lambe bosok yang membuat nalar sehat heran sejuta heran apa gerangan kelayakannya untuk dijunjung, Lorenzo pun menampilkan diri pada CAS untuk diberi “hak intervensi” atas gugatan Rossi. Jiiaaannn! Setelah sebelumnya dengan intonasi bagai nabi, ia mengkhutbahi Rossi “disangsi terlalu ringan dan seharusnya dibatalkan poin yang didapatkan dari posisi 3 di Sepang; tendangan itu sangat menghancurkan kehormatan Rossi dari kepala semua orang”. Dasar mollon! Kita tahu, hanya kaum mollon-lah yang akan menjunjung the true mollon.

Saya beruntung untuk ketiga kalinya bisa ziarah ke Sepang, menjadi saksi insiden kontroversial itu. Keberuntungan saya kian memuncak kala di malam kemarin saya bisa ngopi bareng Rossi di sebuah kafe langganan dan melakukan obrolan yang mewakili pandangannya tentang MotoGP, Marquez, dan tentu Lorenzo kini.

Berikut wawancara lengkap itu.

Saya: Apa kabar, Bung Rossi?

Rossi: Wah, kayak kumunis saja pakai sapaan Bung (heee…heee). Baik, alhamdulillah.

Saya: (heee…) Oh ya, bagaimana persiapan Anda untuk race terakhir di Valencia tanggal 8 November nanti, Bung?

Rossi: Berat, Bung. Tapi, apa pun bisa terjadi jika Tuhan menghendaki, kan?

Saya: Wah kok kesannya Anda putus asa begitu, Bung?

Rossi: Nggak, nggak, saya hanya percaya bahwa di atas segala usaha kita, Tuhan lah yang memutuskan hasilnya. Apa pun takdirNya, harus kita syukuri.

Saya: Wah Anda ternyata benar-benar makrifat ya, Bung, seperti kata Mas Edi di Mojok.co.

Rossi: Ya, begitulah.

Saya: Tapi Anda secara nalar manusia yakin bisa merebut titel juara dunia kesepuluh tahun ini, Bung?

Rossi: Ya, insya Allah. Meski di Valencia, rekor terbaik masihlah dipegang Lorenzo. Saya memang kurang mujur di sirkuit itu. Dulu saya jatuh di tengah balap saat sedang bersaing dengan Nicky Hayden. Dia lalu jadi juara. Tapi ya saya juga pernah menang di sana, meski tak sebanyak di sirkuit lain.

Saya: Anda sepertinya sangat detail pada data statistik, ya, Bung?

Rossi: Saya kan punya admin, ya dialah yang kerja. Biar ada orang yang bisa mendapatkan penghasilan. Data tertinggi statistik dicapai Lorenzo di Valencia di tahun 2010 lalu dengan 362 poin. Lalu Marquez di tahun 2014 lalu dengan 362 poin, lalu Marquez lagi di tahun 2013 dengan 334 poin, lalu Lorenzo lagi di tahun 2012 dengan 350 poin, dan Casey Stoner di tahun 2011 dengan 350 poin pula.

Saya: Anda sendiri?

Rossi: Lha, kan sudah saya bilang, di Valencia saya tak terlalu bagus. Anda mendengar nggak cerita saya tadi? Mainan gadget mulu sih, kayak orang Indonesia saja. Atau, saya pulang nih, pulang nih….

Saya: Maaf, Bung, hanya menegaskan saja sih. Maaf.

Rossi: Anda jomblo ya, kok kayak Agus Mulyadi gitu gayanya? Sudah ditolak masih beralasan biar yakin tetap ngotot mbribiki.

Saya: Lho kok Anda tahu Agus Mulyadi, pengarang Diplomat Kenangan itu?

Rossi: (heee….) Siapa lah yang nggak tahu dia, Bung. Kisah fakir cintanya layak diabadikan. “Kamu sajalah yang bahagia duluan, Mbak, saya belakangan.” Ucapan Agus itu dalam banget, sekaligus tragis banget! (heee…)

Saya: Lupakan Agus, ya, Bung, nggak penting juga, kita balik ke MotoGP, bagaimana sekarang pandangan Anda tentang Marquez setelah insiden Sepang?

Rossi: Dia asu!

Saya: Kalau Lorenzo?

Rossi: Asu juga!

Saya: Kalau Stoner?

Rossi: Sama, asu juga. Tapi dia asu pensiun.

Saya: Kalau Sete Giberneu?

Rossi: Asu juga, tapi asu lawas.

Saya: Kalau Max Biaggi, the roman emperor?

Rossi: Wah, kalau itu asu klasik, ya sebutlah ketuanya asu. The roman asu lah. (heee….)

Saya: Kalau begitu di MotoGP banyak asune dong?

Rossi: Ya banyak lah.

Saya: Mengapa Anda menyebut mereka asu? Terutama untuk Marquez dan Lorenzo di masa kini?

Rossi: Gini, lho. Yang membedakan seseorang itu layak disebut asu atau tidak kan selain soal patuh regulasi, patuh syariat, mestinya juga soal patuh etika. Nilai-nilai thin moral, atau dalam istilah Immanuel Kant, nilai moral universal. Insiden saya dengan Marquez di Sepang tempo hari terjadi kan karena saya diprovokasi dengan luar biasa oleh Marquez. Dia tahu takkan jadi juara dunia, tho. Mestinya, dia menunjukkan rasa hormatnya dengan bertarung fair sama semua rider, termasuk saya, yang jelas-jelas memperebutkan poin bersama Lorenzo. Faktanya, dia memberi jalan pada Lorenzo. Terang sekali itu! Giliran fight sama saya, betapa kampretnya dia ngotot, sampai pada level “menghalangi.”

Saya: Anda punya bukti bahwa Marquez sengaja mengganggu perburuan titel juara dunia Anda?

Rossi: Iya dong. Data statistik. Saya tunjukkan, ya. Secara teknis, di Sepang, di lap ketiga saat Lorenzo menyalip Marquez, kecepatan motor Marquez hanya 2 menit 2,003 detik! Itu sangat anjlok dibanding rata-rata kecepatannya di lap-lap sebelumnya yang tembus 2 menit 0,818 detik. Giliran sama saya, bila ia di depan, kecepatannya kempes lagi hingga 2 menit 2,107 detik! Bila saya menyalip, sontak ia melejit. Kurang bukti apa lagi? Rakyo asu banget, tho!

Saya: Yolloh….segitunya, ya, Bung!

Rossi: Iyo! Keasuan Marquez nggak cuma di situ.

Saya: Lho, memang masih ada yang lebih asu lagi, Bung?

Rossi: Yes! Saat terjadi insiden di lap ketujuh, saya memepetnya untuk menunjukkan kemuakan, “What are you doing, fucker?!” Dia sebetulnya punya dua opsi saat itu. Pertama, mengerem lajunya, sehingga saya bisa lewat dengan mulus tanpa senggolan. Kedua, terus melaju. Dia memilih opsi kedua, tetapi dengan gaya ekstrem. Posisi tikungan itu treknya miring, sehingga otomatis dia mendekat ke saya jika mancal gas. Dan itu yang dia lakukan, sehingga motornya mendekat ke saya. Kepalanya njedul ke lutut kiri saya, lalu diikuti stangnya. Soal tudingan Honda bahwa saya menyebabkan rem tangan Marquez terkunci, lha gimana caranya coba? Mana ada tangan saya lepas dari stang? Jadi, dalam kalimat lain, Marquez sengaja diving biar saya dipenalti. Sungguh asu, tho!

Saya: Wolah, iyo yo, asu banget kui, Bung. Eh, tapi, sebentar, Bung, bagaimana Anda menjelaskan tentang gerakan kaki Anda itu?

Rossi: Motor MotoGP itu berat, Bung! 157 kilogram! Lha kalau tidak saya tepiskan jedulan beban Marquez, saya bisa terjatuh. Jadi saat kaki saya terlepas dari footstep, refleks saya menolak beban itu dengan menepiskan beban Marquez. Gitu aja.

Saya: Tidak dimaksudkan menendang?

Rossi: Yolloh, demi Tuhan tidak lah, Bung. Saya tidak bertaqiyah itu.

Saya: Baik, sekarang gimana pandangan Anda tentang segala nyinyiran Lorenzo terkait seteru Anda dengan Marquez?

Rossi: Walah, kalau dia itu kan simbahe oportunis, tho, Bung. Ya, gimana ya bahasanya, bolehlah disebut biangnya asu, tho. Asu paling hakikat lah. Coba pikir, oke lah kita bersaing, tapi kita ini satu tim. Mestinya dia bisa dewasa dikitlah, wong ya nggak muda lagi. Normalnya orang tambah tua itu kan ya tambah dewasa, tho. Ini nggak blas. Kayak Fayyadl aja yang makin berumur makin pintar tapi makin berani mengkritik para sesepuh NU, termasuk Gus Mus, lho. Itu kan jauh dari spirit kultural NU yang mengedepankan ketawadhu’an.

Saya: Lho, lho, sebentar, kok Anda tahu Fayyadl, kultur NU, dan Gus Mus segala, ya? Jangan-jangan Anda juga tahu tentang Banser dan Pagar Nusa, ya?

Rossi: Sebentar, sebentar, Bung, ini Anda mau bahas Islam Nusantara yang diplokotho sama Mamah Dede atau MotoGP? Perjelas dulu dong….

Saya: (heee….) MotoGP saja, Bung.

Rossi: Baik. Jelasnya gini. Lorenzo itu kan mengatasnamakan fairplay untuk nyinyiri saya. Semua orang juga tahu bahwa saya ini rider yang sangat menjunjung fairplay. Tetapi di sisi lain Lorenzo menerapkan standar ganda. Kayak antek aseng saja dia itu, antek Amerika, antek wahyudi. Atas nama fairness, dia mengambil keuntungan dari situasi tak kondusif saya. Maksud hatinya kan gini: “Sudahlah, Rossi, juara dunianya kasihkan saya tahun ini. Juga fans besarnya.” Tapi kan orang malah jijik dengan semua kenyinyirannya, tho? Jadinya di-huuuu terus dia di Sepang. Dia berlagak hero, aslinya telo. Mollon, lah. Mollon itu adalah tabiat yang nggak banget, njijiki, nggilani, fucking idiot lah.

Saya: Apa lagi yang bisa Anda ceritakan tentang kenyinyiran Lorenzo?

Rossi: Banyak. Di tahun 2011, dia mengatakan Marco Simoncelli adalah pembalap yang membahayakan kesalamatan para rider MotoGP. Race director dimintanya menghukum Simoncelli gara-gara insiden crash Pedrosa itu. Lalu, ingat pula gimana komentar buruk dia pada Marquez saat disalip di lap terakhir saat hujan itu? Lalu saat kalah sama saya tahun 2015 ini, saat wet race, dia menyalahkan helm. Untung helmnya nggak disuruh dihukum ke Dorna (heee….). Pokoknya, semua yang menyebabkan dia kalah, harus salah. Pokoknya harus salah. Persis tabiat orang-orang Indonesia yang gemar mengatakan segala hal buruk yang terjadi akibat salah Jokowi. Pokoknya Jokowi harus salah, titik! Asu banget tho, kui!

Saya: (heee….) Oke. Sekarang, bagaimana harapan Anda pada race di Valencia?

Rossi: Semoga gugatan saya pada CAS dikabulkan, sehingga saya bisa ikut kualifikasi. Jika tidak, artinya saya harus start dari belakang, saya harus secepatnya merangsak ke barisan depan di lap pertama. Saya pernah melakukannya di sirkuit Qatar, langsung melesat ke posisi ketujuh, saat Sete Giberneu menggugat ke race director dengan tudingan kru saya membersihkan grid start untuk mencuri traksi start. Saya dihukum start dari buncit. Padahal kru saya sekadar mengamalkan ajaran “kebersihan sebagian dari iman”. Susah memang urusan sama orang nggak ngerti dalil.

Saya: (heee….) Anda pun tahu dalil segala ternyata, ya. Hebat. Baik, gini, Bung. Anda optimis bisa mengulangi kejadian di Qatar itu?

Rossi: Yakin. Apalagi banyak rider yang menyatakan empati pada saya yang didzalimi dan berkomitmen memberikan jalan agar saya bisa melaju ke barisan depan. Dimotori akhi Iannone.

Saya: Ya saya mendengar soal komitmen Iannone itu. Bahkan Iannone meminta maaf pada Anda gara-gara finish di depan Anda di Philip Island, ya. Dia bilang, jika tahu ada kecurangan berbau rasis begini, dia rela memberikan posisi ketiga kepada Anda. Sungguh mengharukan persahabatan kalian. Tetapi, apa itu tidak mengancam spirit fairness MotoGP?

Rossi: Fairness? Masih relevankah? Repsol kan omong kosong saja saat reaktif menyatakan kecewa pada saya menodai fairness olahraga elit ini. Jika memang mereka menjunjung fairness, bukan kemenangan semata, mestinya Marquez dong yang mereka kecam. Tapi nggak, kan? Lalu apa lagi sebenarnya selain kemenangan, pokoknya kemenangan, yang mereka kejar? Di regulasi MotoGP kan hanya mengatur hal-hal yang legal-formal, ya sejenis syariat gitulah, dan atas insiden itulah saya divonis bersalah. Saya dianggap melanggar syariat MotoGP. Hal-hal yang bersifat etik, substantif, kayak provokasi Marquez, tak dicantumkan, sehingga tak ada sangsi, meski jelas itu jauh dari akhlaqul karimah. Begitulah, jika Anda hanya sibuk dengan syariat, segala yang di permukaan akan sering menodai keluhungan hal-hal yang di dalam, hakikat. Idealnya, meminjam istilah Mulla Sadra, kita ini seharusnya kian hari kian bisa melakukan al-harakah al-jauhariyyah.

Saya: (heee…) Kok Anda serius sekali, Bung, ayo ngopi dulu. Sruput dulu. Atau perlu cuci muka dulu, wudhu dulu, bedakan dulu, sisiran dulu? (heee….)

Rossi: Wah iya ya, lama-lama kok kayak orang-orang Indonesia yang ngehek itu saya ya (heee….).

Saya: Sip, Bung. Pertanyaan terakhir, jika Anda menang di Valencia, bagimana perasaan Anda? Dan bagaimana jika kalah?

Rossi: Tentu ya, normally saya akan berjuang untuk menang. Saya tahu situasi saya sulit. Tapi tak ada yang tak mungkin, apalagi bila Tuhan meridhai. Jika menang, orang-orang mungkin akan mengelu-elukan saya sebagai The Proffesor, bukan The Doctor lag. Saya sepenuhnya meyakini di dalam hati, kemenangan itu adalah kehendak Tuhan. Sedzalim apa pun Marquez dan Lorenzo berkonspirasi, kemahakuasaan Tuhan takkan pernah sanggup dirubuhkan. Lalu jika saya kalah, orang-orang mungkin akan memahami kekalahan saya sebagai kelogisan belaka lantaran posisi saya yang sulit ini. Tetapi saya sepenuhnya meyakini, kekalahan itu adalah kehendak Tuhan. Semua hal bekerja dalam kuasa kun fayakun-Nya, bukan?

Saya: Wah, Anda kembali makrifat nih….

Rossi: Katanya tadi terakhir, kok masih terus ini?

Saya: Kan itu bukan pertanyaan, Bung, hanya komentar.

Rossi: Anda benar-benar orang Indonesia ya, sukanya mengomentari segala hal, termasuk hal-hal yang Anda tak tahu. Jadinya sering lucu, wagu, njur asu pula.

Saya: Anda suka sekali sama kata asu ya, Bung….

Rossi: Sebab saya sudah menyiapkan sebuah kata untuk Marquez jika saya jadi juara dunia di Valencia, “Asu, matamu picek, ndasmu somplak!”

Saya: Jika kalah, Bung?

Rossi: Sama, “Asu, matamu picek, ndasmu somplak!”

Saya: Itu lima kata lho, Bung.

Rossi: Di level makrifat, apalah arti permukaan dibanding hakikat. Udah, ya, salam saja sama Adit dan Agus, bilangin sama mereka, jangan bertaqiyah kayak Iqbal Aji Daryono. Pengin yang-yangan ya yang-yangan saja. Jangan yang-yangan sama quote cinta melulu. Yang-yangan beda jauh sama quote. Eh, itu si Iqbal kan berdarah Muhammadiyah, ya, tapi kok pintar ru’yah, ya? Taqiyah lagi, ya, jiwanya NU tapi bajunya Muhammadiyah. Atau, jangan-jangan beneran dia sudah muallaf NU, ya? Ah, sudahlah, nggak usah dijawab, biar waktu yang menjelaskan, ya. Salamun ‘alaikum. Bye.

mm

Edi AH Iyubenu

Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.