Warung Mbako Arum

Bagi penggemar kretek sejati, penjelajahan rasa tidak harus mentok pada satu rasa saja. Kretekus biasanya akan terus mencoba banyak jenis tembakau sebagai kecintaan pada kretek itu sendiri.

warung_mbako_arum_25
Ngatijo, 50 tahun, sedang melayani salah satu pembeli Warung Mbako ARUM

Penikmat kretek pasti pernah mendengar istilah ‘tingwe’ alias nglinting dewe, yaitu bahasa Jawa untuk melinting sendiri. Anda penikmat kretek harus mencobanya sesekali, karena tingwe merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Apalagi kita bisa memilih sendiri jenis tembakau yang akan kita linting dan isap. Di Yogyakarta, ada tempat yang tidak asing lagi untuk melakukan itu yaitu di Warung Mbok Arum.

Warung ini terletak di Jalan Nyi Ahmad Dahlan No. 18 Yogyakarta. Bila anda datang dari arah Jalan Malioboro, lurus saja ke Selatan hingga bertemu perempatan kantor pos besar. Dari perempatan itu belok kanan menuju Jalan Ahmad Dahlan. Setelah bertemu dengan pertigaan lampu merah, depan RS PKU Muhammadiyah, lurus lagi sekira 200 meter lantas ketemu pertigaan. Belokan ke kiri itulah Jalan Nyi Ahmad Dahlan. Dari pertigaan itu warung Mbako Arum hanyaberjarak 20 meter di sisi kiri jalan.

Warungnya berukuran mungil dengan plang kuning bertuliskan Warung Mbako Arum. Di dalam ruangan tersedia banyak toples kaca berisi aneka jenis tembakau rajangan siap linting. Mulai dari tembakau Boyolali, tembakau Arum Bandung, Trowono, Virginia, Temanggung, hingga tembakau rasa Djarum, Samsu, dan masih banyak lagi. Toples-toples itu diletakkan di atas meja di sisi kanan dan kiri ruangan.

Ngatijo, 50 tahun, sudah lebih dari 20 tahun bekerja di Warung Mbako Arum. Lelaki bersahaja ini dengan ramah melayani pembeli sambil mengajak ngobrol tentang tembakau. Warung Mbako Arum, cerita Ngatijo, sudah berdiri sejak tahun 1952. Hadim, pemiliknya sekarang, adalah generasi penerus pemilik Warung Mbako Arum. Hadim tidak pernah datang ke warung karena kesibukannya, kata Ngatijo. Pengelolaan warung lantas dipasrahkan kepada Ngatijo. Setiap hari warung mbako ini buka mulai dari jam 9 hingga jam 7 malam. Tapi terkadang jam 5 sudah tutup bila Ngatijo ada kepentingan lain, misal layat, atau rewang mantenan tetangganya.

Tembakau yang tersedia di Warung Mbako Arum berasal dari tembakau yang banyak dijual di Pasar Bringharjo. Hampir tiap hari Ngatijo kulakan tembakau di tempat pedagang besar langganannya. Saat saya datang Ngatijo tengah mencampur tumpukan tembakau hasil kulakan hari ini. Tembakau hasil kulakan, oleh Ngatijo, diolah lagi dengan diberi saus sesuai selera pembeli. Tembakau yang laris rasa Sam Su, kata Ngatijo. Mungkin karena sejarah rokok legendaris itu yang telah tertanam di kepala banyak orang sehingga rokok Sam Su menjadi rujukan rasa. Kunjungan saya ke Warung Mbako Arum kali ini untuk membeli tembakau Mole yang harum, agak ringan, gurih dan legit di mulut.

Bagi penggemar kretek sejati, penjelajahan rasa tidak harus mentok pada satu rasa saja. Kretekus biasanya akan terus mencoba banyak jenis tembakau sebagai kecintaan pada kretek itu sendiri. Ade, 26 tahun, pedagang cilok asal Tasikmalaya, adalah kretekus sejati. Dia pelanggan setia Warung Mbako Arum. Ade membeli tembakau rasa Djarum seharga Rp. 2000,-. Ngatijo kemudian menaruh sejumput tembakau ke atas timbangan dan menyemprotkan cairan perasa sambil mengaduk-aduk agar rata, juga agar tembakau tidak terlalu kering. Ade adalah penjelajah rasa tembakau. Hari ini dia membeli rasa Djarum, esoknya dia akan membeli tembakau dengan rasa yang lain, misal Mole, esoknya lagi dia membeli tembakau Temanggungan atau Boyolali.

Tingwe itu asyik, kata Ade. Biasanya, dia melinting tembakau saat sedang menunggui dagangannya. Kalau rokok biasa sebungkus cepat habis, katanya, tapi kalau melinting sendiri di samping lebih hemat juga ada kegiatan, banyak pilihan rasa, dan biar gak bengong, katanya lagi sambil tertawa.

warung_mbako_arum_35
Berjenis-jenis tembakau tersedia di Warung Mbako ARUM.

Pembeli yang datang tidak hanya warga sekitar Yogyakarta saja. Mungkin karena dekat dengan Malioboro atau kraton, yang menjadi pusat tujuan wisatawan. Ngatijo bercerita; bila musim liburan, banyak juga turis datang kesini membeli tembakau. Biasanya turis Australia dan Eropa banyak datang kesini, kata Ngatijo. Belinya sedikit-sedikit tapi banyak jenisnya. Kata bule-bule itu, cerita Ngatijo, tembakau Jawa lebih enak dari tembakau di negaranya, dan banyak pilihan rasanya.

Untuk proses melinting tembakau kretekus akan menemukan banyak hal di Warung Mbako Arum. Segala hal tersedia yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Mulai dari kertas paper, klembak, kemenyan, wur, dan cengkeh. Bahkan alat linting manual. Kita tinggal memilih sesuai selera. Pilih mbakonya, pilih campurannya, pilih kertasnya, linting sendiri, dan buss…busss…nikmatilah.

mm

Eko Susanto

Fotografer profesional, tinggal di Yogyakarta dan bekerja di Klinik Buku EA.