Sosrokartono Sang Poliglot

Mas To, begitu biasa Kartini menyapa Sosrokartono, diakui langsung oleh Kartini menjadi satu-satunya orang yang mempercayai sikap, pemikiran dan gagasan Kartini.

Awalnya, saya kira Haji Agus Salim adalah seorang poliglot (mengetahui, menggunakan, dan menulis dalam banyak bahasa) terbaik yang pernah dilahirkan bangsa ini di akhir abad 19 dan awal abad 20. Menguasai setidaknya tujuh bahasa asing, dan menguasai paling sedikit empat bahasa daerah Nusantara. Hingga akhirnya, di penghujung tahun 2016, tanpa direncanakan dan tak disengaja, saya diajak ziarah ke makam RM Sosrokartono, tak jauh dari pusat kota Kudus, Jawa Tengah.

Namanya berada di sudut gelap catatan tebal sejarah negeri ini. Sedikit sekali disinggung, terutama di buku sejarah formal buatan pemerintah. Sedikit orang yang mengetahui keberadaan sosok yang hebat ini. Kalau pun tahu, paling-paling sebatas bahwa ia adalah kakak kandung RA Kartini dan sedikit profil singkat beliau.

Mereka yang mendalami ajaran Kejawen barangkali tahu lebih banyak tentang Sosrokartono, tetapi boleh jadi hanya sebatas ajaran-ajaran spiritual Sosrokartono dan kehebatannya dalam menyembuhkan berbagai penyakit, dengan hanya berbekal air putih, dan kertas bertuliskan huruf alif. Sedangkan prestasi gemilang selama berpetualang di Eropa sekira 29 tahun, tak banyak orang tahu.

Pun begitu dengan saya. Sebelum ziarah tak terencana ke makam Sosrokartono, tak banyak yang saya ketahui tentang sosok jenius yang satu ini. Saat kemudian mencari tahu lebih jauh tentang kakak kandung Kartini ini, saya mulai melihat ada yang menonjol darinya.

Ketertarikan saya bermula dari informasi yang diberikan salah seorang rekan yang mengajak saya ziarah. Ia mengatakan bahwa Sosrokartono itu seorang poliglot. “Beliau menguasai lebih dari 20 bahasa asing,” ujar rekan saya.

Tentu saja saya terkejut. Kalau benar yang rekan saya bilang itu, sosok ini adalah manusia luar biasa. Betul-betul luar biasa.

Rasa ingin tahu saya akhirnya sampai pada Bung Hatta, yang di buku otobiografinya sempat bercerita tentang Sosrokartono. Buku yang sudah lama saya beli namun belum sempat saya baca, akhirnya saya baca juga karena rasa penasaran dan ingin tahu lebih jauh tokoh yang lahir pada 10 April 1877 ini.

Keahlian menguasai banyak bahasa semakin terasah saat Sosrokartono melanjutkan sekolah di Belanda, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan di Europeesche Lagere School di Jepara, dan Hogere Burger School di Semarang.

Di Belanda ia belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Delft (tidak selesai), dan kemudian pindah ke Universitas Leiden mempelajari Bahasa dan Kesusastraan Timur. Setidaknya, Sosrokartono menguasai 26 bahasa, 17 bahasa suku bangsa Barat, dan 9 bahasa suku bangsa Timur.

Hatta menulis, “Sosrokartono tidak hanya menguasai beberapa bahasa tanah air kita, bahasa modern serta Grik (Yunani) dan Latin, dia juga pandai berbahasa Basken, suatu suku bangsa Spanyol. Pernah dia menjadi juru bahasa dalam bahasa itu.”

Karena keahliannya ini, Sosrokartono sempat bekerja sebagai penerjemah, wartawan perang dunia pertama, dan sempat bekerja di lembaga yang menjadi cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat mengikuti seleksi penerimaan wartawan di surat kabar The New York Herald Tribune di Wina, Austria, Sosrokartono menjadi satu-satunya pelamar yang lolos seleksi.

Dalam proses seleksinya, peserta diminta memadatkan berita dalam bahasa Prancis, menjadi 30 kata saja ke dalam empat bahasa langsung: Prancis, Inggris, Spanyol, dan Rusia. Dari surat kabar ini, ia memperoleh penghasilan sekitar 1.250 dollar. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup sebagai seorang miliuner di Wina,” tulis Hatta.

Sampai saat ini, Sosrokartono diakui sebagai salah seorang wartawan perang dengan liputan terbaik. Ia menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil meliput perundingan gencata senjata antar sekutu dan Jerman. Perundingan yang dilaksanakan sebagai pembuka perjanjian perdamaian, Perjanjian Versailles tahun 1919. Keberhasilan ini tak lepas dari keahliannya menguasai bahasa Basken yang digunakan sebagai bahasa pengantar perundingan.

Usai Perang Dunia I berakhir, Sosrokartono dipercaya blok sekutu sebagai juru bahasa tunggal karena ia satu-satunya pelamar yang memenuhi syarat menguasai banyak bahasa di Eropa, dan tidak berasal dari suku bangsa di Eropa. Perpolitikan PBB yang tidak netral menyebabkan ia mundur dari jabatannya sebagai ahli bahasa di PBB, dan memutuskan untuk kembali ke Nusantara.

Dengan profil dan prestasi yang begitu mentereng ini, wajar saja Kartini bisa menghasilkan tulisan-tulisan dan pemikiran yang bernas semasa hidupnya yang singkat. Meskipun antara Sosrokartono dan Kartini membentang jarak ribuan kilometer yang memisahkan mereka, namun pengaruh kakaknya yang berjarak usia dua tahun ini sangat besar terhadap sikap dan pemikiran Kartini.

Mas To, begitu biasa Kartini menyapa Sosrokartono, diakui langsung oleh Kartini menjadi satu-satunya orang yang mempercayai sikap, pemikiran dan gagasan Kartini. Kartini berkeyakinan, jika Mas To ada di rumah bersamanya ketika Kartini dijodohkan, ia yakin Mas To akan mendukung keinginan Kartini menolak perjodohan itu.

Dari lokasi petualangannya di berbagai tempat di Eropa, Sosrokartono rutin mengirimkan buku-buku sebagai bahan bacaan untuk Kartini, dan adik-adiknya yang lain. Dari Sosrokartono, Kartini banyak mendapat asupan bacaan bergizi yang membentuk sikap, pola pikir dan gagasan-gagasannya yang bernas hingga ia diakui sebagai generasi awal perempuan yang memperjuangkan hak-hak kaumnya di negeri ini.

Saya kira, bukan J.H. Abendanon, Rosa Abendanon, Estelle Zeehandelaar dan beberapa nama Belanda lain yang menjadikan Kartini sehebat yang kita kenal kini. Tempat berkorespondensi, menyampaikan gagasan dan berkirim kabar lewat surat-menyurat memang betul, tetapi yang membuat Kartini begitu bernas dengan pemikiran dan gagasan-gagasannya tentang emansipasi wanita, tentang pendidikan, tentang kebangsaan, dan berbagai isu yang ia curahkan dalam tulisan, saya kira, peran besar ada di Sosrokartono, kakak kandungnya.

Sosorokartono wafat jauh setelah Kartini wafat, 7 tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 8 Februari 1952. Sebelum wafat, sekembalinya ke tanah air usai 29 tahun melanglang buana di negeri Eropa, Sosrokartono mencurahkan hidupnya untuk dunia pendidikan, kesehatan, dan ajaran-ajaran spiritual.

Salah satu ajarannya yang begitu membekas di hati para pengikutnya adalah: Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa adji, ngalurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. (Kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat, menyerang tanpa balatentara, menang tanpa merendahkan).

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)