Sebungkus Rokok Menyelamatkan Mahasiswa Indonesia di Mesir Atas Tuduhan Terlibat Teroris

Ternyata, dengan membawa rokok kretek, polisi Mesir membebaskan tanpa syarat terhadap salah satu mahasiswa asal Indonesia yang semula dicurigai teroris.

Mesir merupakan salah satu negara tujuan bagi orang-orang Islam di dunia untuk menimba ilmu, termasuk orang-orang Indonesia. Kebanyakan mereka studi di Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir. Seperti halnya Muhyiddin Basyroni, pria asal kota Purworejo, Jawa Tengah ini.

Ia mulai belajar disana pada tahun 2004, sebelumnya pernah belajar di Uiversitas Gajah Mada, Yogyakarta. Belajar di fakultas psikologi tahun 1999, kemudian keluar tahun 2000, dan kembali masuk ke UGM di studi antropologi masuk tahun 2001, dan keluar 2003. Selain di UGM, ia pernah juga belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Fakultas Syari’ah pada tahun 1999-2002 (keluar). Dua Universitas tersebut, ia tinggalkan begitu saja, dan memilih belajar di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, hingga lulus.

Pada bulan Januari 2010, ia pulang ke Indonesia, langsung meluncur ke rumah kontrakannya di Krapyak Sewon, Bantul, Yogyakarta. Saat itu jam menunjuk pukul 10.00 WIB. Aku kaget, setelah ia berada di depan pintu kamar tanpa memberi informasi sebelumnya. Di kontrakan inilah kita dulu saling mengenal dengan baik.

Kupersilahkan ia masuk bergabung dengan teman lain yang datang lebih awal di kamar kontrakan kecil dengan ukuran 4x3M. Singkat cerita, kita duduk dan ia bercerita tentang suka dukanya belajar di Mesir. Ia juga menceritakan kondisi pemerintahan Mesir, saat itu dipimpim Hosni Mubarak, konon seperti pemimpin Indonesia saat orde baru.

Diceritakan Muhyiddin, pada tahun 2007, beredar informasi bahwa di Mesir terdapat orang dari negara lain tergabung dalam jaringan teroris internasional, dan kebetulan belajar di Universitas al-Azhar. Kemudian polisi Mesir saat itu gencar melalukan operasi maupun penggeledahan di rumah sewa yang ditempati orang asing, termasuk yang di tempati mahasiswa Indonesia.

Lanjut cerita, ada kejadian yang sangat menggelikan, saat polisi Mesir menggeledah salah satu kontrakan mahasiswa asal Indonesia. Semua penghuni dikumpulkan, kemudian digeledah barang-barang yang ada disitu. Tidak ketinggalan barang-barang elektronik seperti handphone, komputer dan laptop.

Satu persatu dibuka secara teliti, hingga polisi Mesir menemukan satu file dalam laptop mahasiswa asal Jawa Timur bernama Ahmad (bukan nama sebenarnya) yang berisi film seronok. Seketika itu polisi Mesir mengajak rekan-rekannya keluar dari rumah kontrakan, dan melanjutkan penggeledahan ke tempat lain. Kejadian tersebut disaksikan langsung penghuni kontrakan yang saat itu berada di lokasi, sambil tertawa kecil, dan juga sedikit ketakutan.

Di tempat lain, polisi Mesir menemukan mahasiswa asal Indonesia yang dicurigai sebagai orang yang mempunyai pemikiran ke-Islaman garis keras, dan mempunyai kedekatan dengan jaringan teroris di negara lain. Pada akhirnya polisi Mesir selalu memonitoring semua bentuk kegiatan dan aktivitas mahasiswa, baik asal Indonesia maupun asal negara lain.

Hingga suatu saat, masih lanjutan cerita Muhyiddin, di salah satu jalan bernama Rob’ah, jalan yang sering dilewati mahasiswa asing, terdapat operasi pemeriksaan kelengkapan dokumen dan pencarian daftar orang orang yang di curigai. Semua mahasiswa asing yang melintas di jalan tersebut dihentikan, ditanya kelengkapan dokumen dan digeledah.

Termasuk yang dialami Muhammad (nama samaran) temannya Muhyiddin asal Kajen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia dihentikan polisi Mesir, dicerca beberapa pertanyaan, dan ditanya detail tentang identitasnya. Hingga ia dicurigai jaringan teroris, karena beberapa data pribadi tidak bisa ia tunjukan. Ia sempat shok dengan keadaan tersebut, dan beberapa kali menelepon teman-temannya untuk membantu. Namun temannya tidak berani menolong Muhammad karena khawatir apa yang terjadi pada Muhammad akan menimpanya.

Sempat Muhammad dibentak untuk mengaku dan menunjukkan jaringannya siapa saja dan bertempat tinggal di mana? Ia memilih diam dan tidak menjawab semua pertanyaan karena ketakutan, hingga ia harus ditempatkan bersama dengan orang-orang yang telah ditangkap dalam operasi tersebut. Banyak mahasiswa asal Indonesia yang tertangkap, tapi ia tidak mengerti alasan penangkapan mereka, apakah kasusnya seperti ia alami atau beda.

Muhammad melihat satu persatu orang yang ditangkap, lalu diinterogasi seputar masalah jaringan teroris. Mereka yang dicurigai dan teridentifikasi teroris langsung dimasukkan ke dalam mobil tahanan, sementara bagi mereka yang tidak dicurigai dilepaskan oleh polisi. Keadaan tersebut membuat Muhammad tambah bingung, selain data dokumennya tidak lengkap, ia juga merasa punya kedekatan dengan salah satu orang yang sudah dimasukkan dalam mobil tahanan. Sama-sama asal Indonesia, dan sering ngobrol bareng.

Masih cerita Muhyiddin, giliran introgasi bagi Muhammad tiba, ia ditanya beberapa pertanyaan, dan ia hanya diam tidak menjawab sedikitpun, katanya takut salah. Akhirnya polisi Mesir meminta handphone yang saat itu berada didalam saku celana. Kemudian tangan kiri Muhammad dimasukkan ke saku celana untuk mengambil handphonenya. Ternyata di dalam saku, handphone miliknya tercampur dengan satu bungkus kretek dari Indonesia dan korek api, ia pun tambah bingung. Takut jika kretek yang ia bawa menambah persoalan.

Dengan terpaksa Muhammad mengeluarkan sebungkus kretek, handphone dan korek api. Tanpa sadar semua diserahkan ke polisi Mesir. Setelah barang diterima oleh polisi, pertama yang di tanyakan polisi pada Muhammad adalah kotak kertas berwarna merah.

“Apa ini?” tanya polisi kepada Muhammad.

“Rokok,” jawabnya.

“Kamu merokok?”

“Ya.”

“Ya sudah, jalan sana,” ujar polisi menyuruh Muhammad pergi.

Ternyata, dengan membawa rokok kretek, polisi Mesir membebaskan tanpa syarat terhadap salah satu mahasiswa asal Indonesia yang semula dicurigai teroris. Rupanya rokok menjadi salah satu cara polisi dalam mengidentifikasi apakah seseorang termasuk dalam kelompok radikal atau bukan.

Seperti berita yang dilangsir Sindonews, pada Senin 24 November 2014, kelompok radikal selalu menghukum anggotanya yang kedapatan merokok. Bahkan ada satu kejadian yang diakui oleh seorang warga Prancis bernama Flavien Moreau, ia memilih keluar dari ISIS dan dipenjara pemerintah selama tujuh tahun karena ia sulit untuk tidak merokok. Sedangkan kebiasaan ISIS akan mengeksekusi anggotanya jika ketahuan merokok.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).