Percampuran Sunni Syi’ah di Nusantara

Sepanjang sejarahnya Islam Nusantara relatif tak mengenal diskriminasi pada mereka yang bersebrangan paham

Pesta Budaya Tabuik Piaman 2015 yang dihelat pada hari Minggu,(25/10) yang dipusatkan di Pantai Gandoria. Sumber foto: http://bowjienarre.blogspot.co.id/
Pesta Budaya Tabuik Piaman 2015 yang dihelat pada hari Minggu,(25/10) yang dipusatkan di Pantai Gandoria. Sumber foto: http://bowjienarre.blogspot.co.id/

Dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Azyumardi Azra pernal menulis artikel berjudul “Syi’ah di Indonesia; Antara Mitos dan Realitas”. Isi artikelnya menyatakan bahwa, menurut sebagian ahli dan pengamat sejarah dikatakan Islam-Syi’ah pernah berkembang pesat di Indonesia. Bahkan konon Islam-Syiah pernah menjadi kekuatan politik yang tangguh di negeri kita. Ini setidaknya terbukti hingga kini masih banyak ritus tradisi masyarakat Nusantara yang disinyalir memiliki kedekatan dengan tradisi Islam-Syi’ah.

Sebutlah, ritual Hoyak Tabuik yang berkembang di Pariaman sejak sekitar dua abad yang lalu. Hoyak Tabuik atau juga dikenal dengan Perayaan Tabot merupakan upacara atau perayaan mengenang kisah kepahlawanan dan gugurnya Hasan-Husain di Padang Karbala, tetapi kemudian berkembang menjadi pertunjukan budaya khas Pariaman setelah masuknya unsur-unsur lokal budaya Minangkabau.

Perayaan ini dimulai pada hari pertama bulan Muharam hingga hari kesepuluh. Puncak dari upacara tradisional ini adalah prosesi mengarak usungan berbentuk seekor burung buroq yang melambangkan keranda jenazah Imam Husain terbang ke angkasa dan menghilang. Apa yang membuat upacara Tabuik menarik ialah, bahwa ritus ini dilakukan secara meriah dan kolosal, melibatkan arak-arakan ratusan bahkan ribuan warga Pariaman melarung usungan itu ke laut. Tapi, kini karena alasan menjaga kebersihan ekologi laut maka usungan Tabuik itu kemudian dibuang ke makam Imam Senggolo.

Konon, secara historis Hoyak Tabuik berasal dari tradisi masyarakat Islam-Syi’ah yang berasal dari Bengala, India. Adalah Syeikh Burhanuddin Ulakan yang lebih dikenal sebagai Imam Senggolo, orang pertama yang menginisiasi ritual Hoyak Tabuik di Pariaman pada 1685. Namun ada juga tafsiran lain menyebutkan, bahwa ritual ini diperkenalkan oleh para pekerja asal India Selatan yang beragama Islam Syi’ah pada 1718. Tiba di Bengkulu dibawa oleh kolonialisme Inggris dalam kerangka membangun Benteng Marlborough. Para pekerja ini kemudian membaur dengan penduduk lokal, termasuk anak keturunan Syekh Burhanuddin, sehingga terbentuklah komunitas masyarakat adat Sipai. Orang-orang Sipai inilah yang hingga kini menghidupkan tradisi Hoyak Tabuik itu.

Apa yang menarik, bagi masyarakat Pariaman ritus adat ini tidaklah bermakna akidah atau keimanan, pelaksanaannya hanya semata-mata upacara belasungkawa mengenang kepahlawan dan memperingati gugurnya Hasan-Husain. Jelas, masyarakat Pariaman adalah penganut Islam-Sunni, seperti jamaknya mayoritas penganut Muslim di Indonesia. Tapi, bagi mereka mencintai keluarga Baginda Rasulullah bukan hak prerogatif Islam-Syi’ah, tetapi juga berlaku bagi semua umat Islam, tanpa kecuali. Dengan begitu masyarakat Pariaman tidak mempersoalkan asal-usul ritus Hoyak Tabuik yang dari kalangan Islam-Syi’ah. Hasan-Husain yang karena cucu tercinta Baginda Rasulullah adalah milik semua orang Islam di dunia, titik!

Contoh lain yang diduga jejak-jejak pengaruh Syi’ah adalah ritus adat masyarakat Jawa khususnya kelompok Kejawen. Malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharam jelas memiliki makna pergantian tahun, yaitu tahun baru menurut kalender Jawa. Namun bagi masyarakat Jawa, lebih-lebih penganut Islam-Kejawen, malam itu dianggap sakral, wingit (mistis) dan bahkan keramat. Sebenarnya bukan hanya momen malam 1 Suro, tapi juga selama masa bulan Suro sendiri.

Sepanjang bulan itu banyak orang Jawa masih melakukan ritual tertentu, seperti berjalan mengeliling benteng kraton sembari membisu (tapa mbisu), melakukan semedi (meditasi), kungkum (berendam di sungai), pantang tidur (tapa melek) sambil tuguran (kontemplasi), atau ada juga yang melakukan puasa mutih (makan nasi dan air putih saja) atau ngebleng (tidak makan dan minum sama sekali). Pada bulan itu mereka yang memiliki pusaka tosan aji biasanya melakukan ritual pembersihan (penjamasan). Keraton Surakarta dan Yogyakarta hingga kini masih melanggengkan ritual penjamasan pusaka mereka tiap malam 1 Suro. Selain itu, selama bulan Suro masyarakat Jawa lazimnya pantang melakukan berbagai upacara perayaan seperti hajatan pernikahan, syukuran atau memulai pembuatan sebuah rumah.

Konon, secara historis tradisi peringatan 1 Suro atau Suran dicanangkan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yaitu Raja Mataram Ketiga, cucu dari Panembahan Senapati, pendiri Wangsa Mataram. Selain pemaknaan etimologi bahwa kata “Suro” dalam bahasa Jawa konon berasal dari kata “Asyura”, yang notabene merujuk pada tradisi peringatan gugurnya Hasan-Husain di Padang Karbala, sayangnya tak ada tafsiran lain yang mengukuhkan korelasi antara Islam-Kejawen dan Islam Syi’ah. Sedang tafsiran sejarah lebih dikaitkan pada momen Sultan Agung mengubah kalender Saka menjadi kalender Jawa yang memadukan sistem kalender Saka dan Hijriah (Islam). Ini ditafsir terjadi pada 1 Sura tahun Alip 1555, tepat pada 1 Muharram tahun 1043 Hijriah, atau 8 Juli tahun 1633 Masehi.

Namun jika mengingat persepsi masyarakat Jawa khususnya Islam-Kejawen tentang makna Malam 1 Suro atau bulan Suran yang notabene pantang melakukan upacara perayaan dan lebih memilih banyak melakukan ritual tirakatan, maka mudah diduga tradisi ini barangkali memang berkorelasi dengan tradisi Asyura Islam-Syi’ah tersebut. Suasana belasungkawa yang lekat pada tradisi Asyura untuk mengenang gugurnya dua cucu Baginda Rasulullah inilah naga-naganya membuat malam 1 Suro dan bulan Suran jadi dianggap sebagai bulan yang bernuansa keramat.

Apa yang menarik disimak dua ritus tradisi adat tersebut ialah adanya unsur sinkretisme, ekletisme, atau heterodoksi antara Islam-Sunni, Islam-Syi’ah dan unsur-unsur lokal di Indonesia. Lebih jauh, persetubuhan dan bahkan persenyawaan di antara ketiganya itu bahkan telah memunculkan model Islam pinggiran yaitu Islam-Nusantara, yang bukan saja khas namun juga berbeda dengan model Islam di pusatnya, Timur Tengah. Kekhasannya bukan semata pada produk kebudayaannya, seperti Hoyak Tabuik atau peringatan 1 Suro, misalnya, tapi lebih dari itu. Islam Nusantara juga dikenal sebagai Islam toleran, penuh kedamaian, dan cenderung akomodatif terhadap pluralisme keyakinan yang tumbuh di dalamnya. Sepanjang sejarahnya Islam Nusantara relatif tak mengenal diskriminasi pada mereka yang bersebrangan paham, apalagi hingga konfik berdarah-darah antara Sunni dan Syi’ah sebagaimana terjadi di pusatnya.

Sumber foto sampul: Rizkyn Firman
mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.