Pariwisata Budaya Indonesia

Dengan potensi ribuan etnis dan masyarakat adat Indonesia berpeluang besar membangun industri pariwisata. Tak hanya mengambil ceruk pariwisata minat khusus, yakni model ekowisata atau cultural and heritage tourism, melainkan sekaligus mem-branding citra dirinya sebagai negeri pusaka masyarakat adat di kawasan Asia Tenggara.

Pada 2 Desember 2015 sidang ke-10 Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Namibia, menetapkan tari tradisional Bali sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Sekali lagi, Indonesia berhasil mendapat pengukuhan politik dan pengakuan internasional tentang keberadaan warisan budaya bangsa, setelah sebelumnya Wayang, Batik, Keris, Anglung, Tari Saman dan Noken.

Kini bahkan tak hanya satu tarian, pengakuan dan pengesahan UNESCO diberikan untuk sembilan tari tradisional Bali. Sembilan tarian itu terbagi ke dalam tiga genre, yaitu sakral yang secara lokal disebut Tari Wali, semi-sakral atau disebut Tari Bebali, dan tarian hiburan atau disebut Tari Balih-balihan. Kesembilan tarian itu antara lain: Rejang, Sanghyang Dedari, dan Baris Upacara. Ketiganya termasuk kelompok Tari Wali. Sedang yang termasuk Tari Bebali adalah Topeng Sidhakarya, Dramatari Gambuh, dan Dramatari Wayang Wong. Sementara tiga tarian terakhir yaitu Legong Kraton, Joged Bumbung dan Barong Ket termasuk kategori Tari Balih-balihan.

Kabar ini tentu menggembirakan, terlebih mengingat isu keanekaragaman budaya dan upaya konservasi budaya kini mulai mendapat perhatian serius warga dunia pada pergantian abad ini. Indonesia yang multietnis, multibahasa sekaligus multibudaya jelas memberikan begitu banyak warisan kekayaan seni dan budaya yang bermultiragam bentuknya. Adanya pengakuan dari UNESCO adalah bukti pengakuan mereka terhadap keberadaan entitas multikultural Indonesia sekaligus capaian kekayaan masalalu bangsa ini yang notabene masih bestari hingga kini.

Pengakuan dan pengesahan UNESCO semakin memiliki arti penting, mengingat belakangan negeri kita sempat heboh karena muncul kasus klaim Malaysia terhadap eksistensi Tari Pendet dan Tari Reog. Makna signifikan klaim budaya bukannya tak penting, terlebih klaim warisan budaya mempunyai korelasi terhadap pertumbuhan ekonomi. WTO bahkan menegaskan bahwa sektor pariwisata telah menjadi industri yang prospektif dan kompetitif di abad 21.

Data dari Pacifik Asia Travel Association (PATA) menunjukkan bahwa jumlah kunjungan internasional ke wilayah Asia Pasifik tumbuh rata-rata 2,2% pada tahun 2009, meleset dari dugaan diasumsikan minus 4% karena krisis ekonomi global. Asia Tenggara mencatat pertumbuhan paling fantastis yaitu rata-rata 7%, dengan distribusi ke Malaysia (+14%), Thailand (+11%) dan Indonesia (+3%).

Sementara bicara daya saing pariwisata Indonesia, menurut World Economic Forum yang mempublikasikan The Travel and Tourism Competitiveness Report 2009 – 2010, posisi kita berada pada peringkat ke-81 dari 133 negara. Masih jauh di bawah Singapura (10), Malaysia (32) dan Thailand (39). Lima tahun berselang, peringkat Indonesia berhasil naik tajam. The Global Competitiveness Report 2014 – 2015 mencatat Indonesia berada pada posisi 34. Namun posisi ini secara rangking global masih tetap kalah jauh dibandingkan posisi Singapura (2), Malaysia (20) dan Thailand (31).

Wisatawan asing yang datang pun tak kecuali Indonesia masih jauh berada di bawah angka statistik yang berhasil dicapai ketiga negara itu. Ambil contoh pada tahun 2012, Indonesia mencatat kedatangan wisatawan asing sebesar kurang-lebih 8,04 juta; Malaysia 25,03 juta; Thailand 22,3 juta; dan Singapura 14,5 juta. Dua tahun berselang yaitu tahun 2014, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia naik menjadi 9,43 juta; Malaysia 27 juta; Thailand 24,77 juta; dan Singapura 15,56 juta.

Ini tentu sangat ironis, mengingat tujuan wisata Indonesia lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, lebih-lebih Singapura. Dengan mengingat karakter multietnis dan multibudaya Indonesia plus kekayaan panorama alamnya seharusnya Indonesia dapat menjadi magnet kuat tersendiri bagi datangnya tamu asing. Terlebih mengingat laporan World Travel Tourism Council (WTTC, 2000) menempatkan model ekowisata sebagai unggulan industri pariwisata global saat ini dibandingkan bentuk pariwisata konvensional umumnnya. Dengan komposisi demografis yang multietnis dan multibudaya seharusnya dapat memimpin industri pariwisata khususnya model ekowisata dibandingkan ketiga negara tetangga itu. Tapi, nyatanya tidak dan mengapa hal ini tak terjadi?

Salah satu penyebabnya yaitu kebijakan bebas visa untuk kunjungan pariwisata. Malaysia telah membebaskan visa bagi 164 negara dan Thailand bagi 56 negara. Sementara Pemerintah Indonesia baru-baru saja mengeluarkan kebijakan bebas visa kunjungan bagi 75 negara, menambah 15 negara yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebelumnya. Selain itu, buruknya infrastruktur nampaknya sering menjadi keluhan utama.

Tapi, apakah hanya soal itu? Tentu tak hanya itu. Malaysia dan Thailand nampak lebih piawai dan sukses mem-branding dirinya sebagai ikon wisata di Asia Tenggara. Ambil contoh soal keris, Malaysia nampak lebih greget melakukan promosi ketimbang Indonesia selaku stakeholder-nya. Negeri Jiran tidak segan-segan mengadopsi keberadaan keris Melayu entah itu Bugis atau Sumatra kemudian mempromosikan sebagai branding kebudayaan mereka secara besar-besaran. Kasus klaim Malaysia terhadap Tari Pendet maupun Tari Reog, tak kecuali, bingkainya juga adalah promosi wisata dunia.

Sayangnya meski sudah muncul kasus klaim demikian, pemerintah tetap saja terkesan abai dan kurang greget memoles citra dirinya sebagai detinasi wisata. Padahal dengan potensi keberadaan ribuan etnis dan masyarakat adat (indigenous people) sebenarnya Indonesia berpeluang sangag besar membangun industri pariwisata. Tak hanya mengambil ceruk ekonomi pariwisata minat khusus yakni model ekowisata atau biasa disebut pariwisata pusaka budaya (cultural and heritage tourism) di kawasan Asia Tenggara, melainkan sekaligus juga mem-branding citra dirinya sebagai negeri pusaka masyarakat adat. Ayo, bergegaslah Indonesia!

mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.