Nalar Politik Sejatinya Bukan Hitam-Putih, Renungan dari Kisah Ramayana

Aku tidak menginginkan kebesaran bagi negeriku, khususnya kebesaran yang lahir dari darah dan kesalahan. Aku ingin menghidupkan negeriku dengan menghidupkan keadilan. Tanpa itu, negara bisa menjadi sumber kelaliman dan tirani

ramayana-01

Kisah wiracarita Ramayana bermula dari cinta. Ya, seorang raja besar dari sebuah negeri superpower Alengkadiraja, Rahwana jatuh hati pada sosok Dewi Shinta. Sialnya sang pujaan hati itu adalah permaisuri putra mahkota negeri Ayodya yang juga kekuatan superpower, Rama Wijaya namanya.

Alkisah jauh sebelum Shinta nikah, Rahwana sudah lama memeram hasrat mempersunting Shinta, tapi apa daya bertepuk sebelah tangan. Karena saking cintanya—cinta yang dalam kamus Erich Fromm, seorang penganut Neo-Freudian, ialah kebutuhan mendasar manusia untuk keluar dari rasa kesepian dan kesendirian—tak khayal Rahwana sekalipun tahu status Shinta “kawin”, tetap saja bersikukuh merengkuhnya. Atas nama cinta, segala sesuatu dalam hidupnya pun dipertaruhkan. Cinta, memang daya geraknya luar biasa. Selalu buta.

Cerita kepahlawanan yang sudah demikian klasik ini, dalam pementasan sendratari Ramayana di Candi Prambanan, biasanya dibuka dengan alur di mana Prabu Janaka, yaitu orang tua Shinta, mengadakan sayembara mencari jodoh bagi putrinya itu. Seorang putera mahkota dari Ayodya, yang nanti lebih dikenal dengan nama Sri Rama itu, memenangkan sayembara dan berhak mempersunting Shinta. Mendengar kabar itu, Rahwana terang patah hati dan berduka, tapi ia tak lantas patah semangat. Maka sesaat setelah mendengar info bahwa Shinta, Rama dan adiknya Laksmana tengah memasuki hutan belantara Dandaka, kesempatan ini tidaklah ia sia-siakan. Oleh Rahwana dibuatlah rencana dan strategi mewujudkan mimpi-mimpinya, sekalipun dengan merebut Shinta demi mewujudkan hasrat cinta sejatinya.

Seperti kita tahu, kisah wiracarita Ramayana ini berujung pada babak peperangan antar dua kekuatan superpower. Bagaimana akhir ceritanya, bahkan sejak sedari awal babak sebenarnya mudah diduga. Sejak mula Rahwana telah diposisikan sebagai sosok dan tokoh antagonis, sementara Rama protogonis. Dengan plot penyusunan cerita yang cenderung hitam-putih maka alur drama akan bergerak ke mana pun juga jadi mudah ditebak. Ya, karena Sri Rama di sini telah dinisbatkan sebagai titisan Dewa Wisnu, tak berlebihan sekiranya ia juga muncul sebagai pemenang epos Ramayana. Ini mudah dimengerti mengingat wiracarita Ramayana, yang dalam bahasa Sanskrit berasal dari kata Rāma dan Ayaṇa yang artinya “Perjalanan Rama”, ditulis oleh Resi Walmiki sebagai bentuk persembahan susastra baginya.

Ya, plot dan struktur sebuah epos memang cenderung ditulis secara hitam-putih. Epos, wiracarita, cerita kepahlawanan dengan sendirinya selalu menuntut munculnya sosok-tokoh yang dipersalahkan sekaligus dikalahkan, sehingga munculnya narasi ketokohan dan kepahlawanan dari sang tokoh cerita menjadi absah. Konsekuensinya tentu banyak generalisasi dan reduksi. Posisi tokoh yang dipersalahkan akan dihitamkan sedemikian rupa, sebaliknya posisi pemenang diputihkan tanpa arsiran hitam sedikitpun. Tujuannya, muncul kontras tajam. Kebenaran atau dharma di satu sisi dan kejahatan atau a-dharma di sisi lain.

Ya, demikianlah, terlebih-lebih pada momen peperangan atau pasang naik gelombang sejarah revolusioner juga selalu menuntut batas demarkasi secara pilah dan tegas, antara hitam dan putih, antara kebenaran dan kejahatan, antara dharma dan a-dharma. Demikian juga plot dan struktur wiracarita Ramayana tentu tak luput dari atmosfir itu. Semua tokoh pendukung struktur cerita, pada akhirnya akan ditarik pada alur skema itu, yakni berada di kubu mana dan memilih berpihak pada siapa, lawan atau kawan: Rama atau Rahwana (?).

Menyimak kembali epos Ramayana, ternyata kita temui sisi-sisi dramatik kisah anak manusia yang menarik disimak. Bukan pada kisah romah percintaan Rama-Shinta yang oleh banyak orang sering dipadankan dengan kisah cinta Romeo-Juliet, juga bukan tentang cerita kepemimpinan dan kecakapan strategi militer seorang Rama memenangkan peperangan. Bukan hal itu.

Jika anda jeli menyimak babakan wiracarita ini, maka pasti muncul dua tokoh kuat yang menarik dan patut disimak. Pada kedua tokoh itu tersimpan hikmah tentang sulitnya membuat sebuah pilihan dan sikap politik. Ya, pada sebuah momen peperangan antar negara-bangsa, pada momen polarisasi sosial yang tajam dan riuh, bagaimanapun sebuah pilihan politik seringkali jadi sangat eksistensial. Pada titik ini kita menyaksikan bahwa pertimbangan pilihan dan sikap politik kedua tokoh ini bukan semata didasarkan pada kalkulasi menang atau kalah. Juga bukan lagi sesederhana soal hitam atau putih, mana yang salah dan mana yang benar. Banyak warna-warni kehidupan manusia terpotret di sana.

Ya, dialah si Arya Kumbakarna dan Gunawan Wibisana, keduanya ialah adik kandung Rahwana. Mereka bertiga plus Sarpakenaka adalah anak seorang resi bernama Wisrawa dari perkawinannya dengan Sukesi. Posisi sebagai adik kandung raja yang notabene diposisikan sebagai tokoh antagonistik, yang bukan hanya disalahkan namun juga dikalahkan oleh sejarah, membuat struktur wiracarita Ramayana memiliki unsur dramatik yang sangat menarik.

mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.