Mr Mojo Risin’: No One Here Gets Out Alive

“Ketika itu, katakanlah, aku sedang menguji sejauh apa batas-batas kenyataan itu sebenarnya. Wakti itu aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Semuanya hanya itu, hanya ingin tahu.”

Perawakannya tinggi dan kurus, tapi bahunya tampak begitu lebar, tampak tak biasa. Rahangnya keras dan persegi dengan lesung pipit. Suaranya terkontrol, anggun, dan meyakinkan. Dingin, cerdas, dewasa, bijak, penuh kasih sayang, dan mampu menerima tanggung jawab yang besar.

Di dekat Albuquerque, ketika sedang melintasi jalan bebas hambatan bersama orang tuannya menuju Santa Fe, ia mendapatkan pengalaman yang buruk. Sebuah pengalaman yang kelak dianggapnya sebagai pengalaman dramatik dan paling penting dalam hidupnya.

Mereka melewati sebuah truk yang terbalik, dan menyaksikan orang-orang Indian Pueblo yang terluka, dan sekarat. Jim menangis, Steve, ayahnya yang seorang militer menghentikan mobil untuk melihat apakah ia bisa memberikan pertolongan atau tidak. Jimmy – begitu orang tuanya memanggilnya hinga usia tujuh tahun – melihat peristiwa itu dari balik kaca jendela sembari menangis.

Steve kembali ke mobil. Jimmy tampak tak tenang, ia semakin gelisah, tersedu, dan histeris. “Aku ingin menolong, aku ingin menolong. Mereka akan mati, mereka akan mati,” ujarnya. Ibunya, Clara memeluknya, ayahnya mencoba menenangkan dan mengatakan bahwa itu hanya mimpi. Jimmy semakin keras menangis.

Bertahun-tahun kemudian, ia mengatakan bahwa ketika peristiwa itu terjadi, dan ketika mobil ayahnya pergi meninggalkan lokasi tersebut, seorang Indian baru saja tewas dan jiwanya merasuki tubuhnya.

***

Jim kecil, walau pintar namun ia bukanlah anak yang baik. Perangainya cenderung kasar. Andy, adiknya yang juga teman satu kamarnya di rumah kerap menjadi korban dari perilaku jahatnya. Sekali waktu ketika mereka sedang berjalan bersama, tiba-tiba Jim mengambil batu dan mengatakan akan menghitung sampai sepuluh.

Andy ketakutan, dan memohon agar Jim tak melemparnya dengan batu. Jim tetap menghitung, hingga pada hitungan ketiga Andy lari. Jim mempercepat hitungannya sampai sepuluh dan kemudian melemparkan batu itu ke arah adiknya.

Membungkus kotoran anjing dengan handuk dan mengejar Andy, untuk diusapkan ke mukanya. Datang secara tiba-tiba ke arah Andy yang sedang menonton TV, lalu menduduki mukanya dan mengeluarkan kentutnya. Begitu juga dengan adik perempuannya, Anne yang juga tak pernah luput dari keisengannya.

***

Jim remaja memiliki seorang teman perempuan, cinta pertamanya yang kelak ia tinggalkan begitu saja. Tandy Martin, setiap pulang sekolah selalu melewati rumahnya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, bicara tentang ketakutan-ketakutan, bicara tentang harapan-harapan, bicara tentang kesamaan-kesamaan.

Jim mengaku ingin menjadi seorang penulis, walau sesekali ia juga mengatakan ingin menjadi seorang pelukis. Memberikan dua lukisan kepada Tandy, lukisan potret Tandy dalam bentuk matahari, dan lukisan potret diri Jim yang digambarkan sebagai seorang raja. Puisi adalah keindahan lain yang juga dilahapnya, dituliskan, dan diungkapkannya pada orang-orang. Walau tak banyak orang yang tahu puisi dan lukisan yang ia buat.

“Seseorang tak bisa terus-menerus membaca buku, mata juga bisa lelah,” ujar Jim ketika ditanya Andy kenapa ia suka menulis.

Pada ujian masuk universitas, nilai matematikanya di atas rata-rata nilai matematika nasional. Ia melahap buku Friedrich Nietzsche, pada usia remajanya. Ia membaca buku Plutarch yang berjudul “Lives of the Noble Greeks-Kehidupan Orang-Orang Mulia Yunani”. Menjadikannya jatuh cinta pada sosok Alexander Agung, mengagumi pencapian dan intelektualitasnya, serta mengadaptasi beberapa penampilannya.

Arthut Rimbaud, penyair besar Prancis mempengaruhi puisi-puisinnya. Kerouac, Gregory Corso, Norman O. Brown, Colin Wilson, Blzac, Cocteau, Miliere, Withman, Baudelaire, Dyan Thomas, Brendan Behan, dll,.

Pada suatu malam di tepi sungai Potomac, ia pergi bersama Tandy dan teman-temannya. Ia membuat satu buku puisi catatannya. Ketika Tandy membacanya, Jim bertindak konyol yang membuat Tandy jengkel.

Tiba-tiba Jim menangis, meledak, dan tersungkur di pangkuan Tandy, tersedu tak terkendali. “Apa kau tak mengerti? Bahwa aku melakukan semua ini demi engkau,” ujar Jim kepada Tandy. Ia kemudian membuat sebuah pengakuan kepada Tandy bahwa ia jatuh cinta kepadanya.

Malam berikutnya Jim menelpon Tandy untuk meminta bertemu. Tandy ingin menemui Jim, namun ia sudah ada janji yang telah lama untuk menemani seseorang ke sebuah acara dansa formal. Tandy merasa tak adil bagi orang itu jika ia membatalkan janji yang telah lama ia buat.

Jim mengatakan bahwa ia akan pindah ke Florida esok hari. Tandy kaget karena baru mendengar rencana kepindahan Jim itu satu hari sebelum ia pergi. Ia marah, merasa tersakiti, menyalahkan Jim.

“Akhirnya aku akan bebas darimu, aku bebas! Aku pergi, dan tak akan pernah menulis surat padamu, aku tidak akan memikirkanmu,” ujar Jim yang berdiri di bawah pohon rimbun di halaman rumah Tandy, malam itu.

Jim meminta Tandy mengembalikan buku-buku catatannya. Dengan matanya yang bertangis, ia menyerahkan buku-buku catatan berisi puisi itu kepada Jim.

Selang satu hari kemudian, Tandy terbangun dari lelapnya di lepas tengah malam. Ia melihat Jim dari jendela kamarnya di lantai dua, berdiri di tengah taman. Bergegas ia turun ke bawah, dan berbarengan dengan itu pula Jim melangkah pergi dari tempatnya berdiri. Tandy melihat dari balik Jendela, sosok hitam itu sudah menaiki mobil keluarga Morrison. Jim telah pergi, menembus malam itu menuju Florida.

***

Aku bangun di suatu pagi, dan melihat seorang lelaki tampan di samping kolam renang hotel …. Seketika aku jatuh cinta padanya. Lalu kusadari lelaki itu adalah Jim …. Sungguh menyenangkan bisa jatuh cinta lagi, dengan cara baru, pada lelaki yang sudah pernah membuatku jatuh cinta.” – Pamela Courson –

Jim dan Pamela berkelana bersama dalam waktu yang panjang di dalam mobil, dan di kamar hotel, di antara pertikaian-pertikaian kecil, dengan banyak sekali selingan yang menakjubkan.

Mereka berkendara menuju barat daya desa penghasil wine di Prancis, melewati Orleans, Tours, Limoges, dan Touluse. Menyeberangi Spanyol melalui Andora. Mengunjungi the Prado di Madrid, tempat jim mencari “The Garden of Earthly Delights” karya Hieronymous Bosch.

Berpindah menuju selatan ke Granada, di mana Jim begitu terkesan dengan Alhambra, sebuah istana muslim Spanyol yang diakui sebagai arsitektur bergaya Islam Barat nan indah, dan masih berdiri tegak. Sebuah benteng dengan kubah disinari cahaya matahari, dan berhiaskan atap biru yang begitu elok.

Di Tangier mereka pergi ke arah selatan, menyusuri batas samudra Atlantik menuju Casablanca, ke pedalaman Marrakesh. Minum wine buatan penduduk lokal, merekam segala aktivitas mereka dengan kamera film Super-8. Menghabiskan tiga minggu sebelum kembali lagi ke Paris.

Mereka tinggal di Left Bank, St. Germain. Tempat yang disukai Jim karena banyak bar terkenal. Kafe de Flore dan the Deux-Magots, tempat Jean-Paul Satre dan Albert Camus sering minum bersama. Atau La Coupole, dengan karya Picasso, Klee, Modigliani. Ada lagi, Art Deco, di mana Francis Scott Key Fitzgerald dan Zelda Fitzgerald pernah menguasai pengadilan.

Namun Le Bulle adalah tempat kesukaan Jim, tempat yang serind disebut Rock ‘n Roll Circus. Led Zeppelin, Richie Havens, Johnny Winter sering bergaul di sana. Namun pada musim semi 1871, klub tersebut menjadi tempat perdagangan heroin yang kerap didatangi penjahat, germo, atau pencuri.

Suatu hari di bulan Juli, Paris terik panas. Jim terpuruk dalam rasa murung yang menakutkan. Ia mencoba menulis, namun kata-kata yang ia dapatkan tak seindah apa yang pernah ia hasilkan dulu. Memandang cermin, melihat kelopak matanya, mencari jawaban.

Sabtu, 3 Juli 1971, Jim sedikit muntah darah. Hal yang pernah terjadi sebelumnya, mengingat begitu mesranya Jim dengan alkohol. Jim merasa ia baik-baik saja, dan berkata akan mandi. Pemla kembali ke tempat tidurnya, dan terbangun pada pukul lima. Jim tak ada di sisi tempat tidurnya, lalu ia ke kamar mandi dan mendapati Jim berada di bak mandi. Lengannya terkulai di pinggir bak mandi, kepalanya menengadah, rambutnya yang panjang terurai di atas air, senyum kanak-kanak tersungging di wajahnya yang telah rapi tercukur bersih.

Berbagai spekulasi muncul mencoba menjawab misteri kematian Jim. Mulai dari overdosis heroin, serangan jantung, sampai dengan konspirasi politik pembunuhan dirinya untuk menghilangkan gaya hidup hippie, aliran kiri baru. Namun tak ada yang sebenarnya tahu apa penyebab kematiannya. Jika ada orang yang siap ingin mati, orang itu adalah Jim dengan tubuhnya yang sudah renta dan jiwanya yang lelah.

Jim dikebumikan dalam upacara sederhana, dengan hanya sedikit teman yang menghadirinya. Tubuhnya tak pernah di otopsi untuk mengetahui penyebab ia pergi. Pamela mengatakan, “Kami ingin membiarkan Jim pergi sendiri. Dia meninggalkan dunia ini dalam dalam dan kemuliaan.” Pamela membawa rahasia kematian Jim ke dalam kuburnya, tiga tahun kemudian setelah Jim tiada.

Jim dimakamkan di Pere Lachaise, di timur kota Paris. Sebuah batu nisan bertuliskan “James Douglas Morisson, 1943-1971”. Terukir pula di nisannya sebuah kalimat berbahasa Yunani, “Kata Ton Daimona Eaytoy” yang berarti “Percaya Pada Jiwanya Sendiri”.

Di Pere Lachaise, pekuburan tua yang dibangun oleh Kaisa Napoleon Bonaparte pada 1804, Mr Mojo Risin’ mungkin tengah bercengkrama menikmati dunia barunya bersama La Fontaine, dramawan Moliere, komposer Frederic Chopin, Guillaume Apollinaire, Edith Piaf, juga Oscar Wilde.

 

*Tulisan ini disarikan dari buku berjudul “No One Here Gets Out Alive”, karya Jerrry Hopkins dan Danny Sugerman, diterbitkan oleh Warner Books, 1980.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.