Mengisap Lintingan Tembakau Sebagai Penanda Dewasa Orang Rimba

Lelaki remaja yang telah memasuki fase dewasa akan didoakan, kemudian diberikan tembakau, diminta untuk melinting, membakar dan mengisapnya.

Pada komunitas adat Orang Rimba atau yang lebih dikenal dengan Suku Anak Dalam yang mendiami wilayah-wilayah di tengah pulau Sumatra, proses seorang anak lelaki yang baru lahir hingga dianggap sudah dewasa, adalah sebuah proses yang menarik untuk diketahui. Mereka tak menggunakan patokan usia untuk menentukan seorang anak lelaki itu balita, anak-anak, remaja hingga dewasa. Orangtua dan komunitas bersama-sama yang menilai dan menentukan tahapan-tahapan kehidupan yang dilalui seorang anak lelaki.

Saat seorang anak lelaki baru dilahirkan, setelah upacara adat memandikan bayi, anak-anak tersebut dianggap suci dan bersih. Kehidupan keseharian mereka dikaitkan dengan dewa-dewa sesuai keyakinan Orang Rimba. Anak-anak dipercaya masih bisa berinteraksi langsung dengan dewa-dewa dan hidup dalam perlindungan langsung dewa.

Saat fase ini, anak-anak tak boleh bersentuhan dengan dunia luar. Makanan yang diberikan kepada mereka pun tak boleh sembarangan. Ada beberapa makanan yang halal dimakan Orang Rimba, tetapi haram diberikan kepada anak-anak yang masih dalam lindungan dewa. Mungkin untuk ukuran kita, anak-anak ini kira-kira berada pada usia balita. Sepanjang fase ini, anak-anak masih bertelanjang. Di tubuh mereka hanya menempel hiasan-hiasan semacam kalung dan gelang.

Fase selanjutnya adalah fase memasuki masa kanak-kanak. Fase ini sangat mudah dikenali, semua anak lelaki menggunakan pakaian berwarna putih yang biasa disebut cawat, pakaian yang menutupi bagian pinggang hingga paha mereka. Saat memasuki fase ini, makanan yang boleh mereka makan sudah semakin banyak, hampir sama dengan makanan orang dewasa.

Sejak fase balita hingga fase kanak-kanak, rambut yang tumbuh di kepala haram untuk dipangkas. Jadi selain dengan cawat putih, anak-anak lelaki di rimba yang masih pada fase kanak-kanak dikenali dengan rambut gondrong mereka.

Pada fase ini, kemampuan-kemampuan dasar untuk bertahan hidup di tengah hutan mulai dipelajari. Anak-anak dibekali ketapel untuk latihan membidik. Mereka juga mulai belajar mengenal jenis-jenis binatang dan tumbuhan, serta belajar membaca jejak dari binatang-binatang yang ada di sekitar hutan.

Kemampuan-kemampuan dasar ini tentu saja dibutuhkan oleh komunitas yang mengandalkan berburu dan meramu sebagai sumber utama makanan mereka. Pelajaran yang paling tinggi di fase ini adalah pelajaran memasang jerat untuk menangkap binatang.

Setelah fase ini dianggap selesai, dukun yang dihormati di rimba dibantu orangtua mereka akan memangkas rambut anak-anak tersebut. Cawat putih ditanggalkan, anak-anak bebas memakai pakaian sekehendak mereka. Fase kanak-kanak resmi dilalui, mereka mulai memasuki fase remaja.

Fase remaja adalah fase yang paling padat dalam belajar sekaligus fase yang paling singkat dalam ukuran waktu. Pada fase ini mereka akan dilibatkan secara langsung dalam keseharian komunitas. Mulai berburu, memasang jerat, menuba ikan, mencari madu, dan proses-proses mencari dan mengumpulkan sumber makanan lainnya.

Saat Orang Rimba mulai menanam karet di tanah-tanah mereka, proses belajar di masa remaja juga bertambah. Lelaki usia remaja sudah diharuskan bisa membuka ladang, menanam karet, merawat kebun dan harus mampu menyadap getah karet. Pada fase ini pendampingan dari orangtua dan kakak mereka sudah semakin berkurang. Lelaki yang sudah memasuki usia remaja sudah harus mampu melakukan itu semua secara mandiri.

Pada fase ini jugalah interaksi dengan dunia luar dilakukan. Mereka belajar memahami dunia di luar komunitas mereka. Mendatangi pasar untuk ikut bertransaksi jual-beli, diizinkan belajar membaca, menulis dan berhitung serta pelajaran-pelajaran lainnya yang difasilitasi relawan-relawan di Sokola Rimba. Mulai membuka hubungan dan kontak dengan masyarakat desa dan warga transmigran yang tinggal di sekeliling wilayah hidup Orang Rimba. Saat semua proses itu telah berhasil dilalui, lelaki remaja akan dibaptis sebagai lelaki dewasa.

Dahulu, ada upacara adat yang diselenggarakan untuk mereka yang sudah melalui fase remaja menuju fase dewasa. Biasanya upacara adat tersebut akan dihadiri oleh para tetua adat, orangtua, dan perwakilan komunitas Orang Rimba. Lelaki remaja yang telah memasuki fase dewasa akan didoakan, kemudian diberikan tembakau, diminta untuk melinting, membakar dan mengisapnya.

Kini, upacara adat itu sudah jarang sekali dilakukan. Mereka yang sudah dianggap memasuki fase dewasa dibaptis dengan diberikan lintingan tembakau saja. Malah, kadang sekadar diberikan sebungkus rokok pabrikan. Selesai. Dianggap dewasa.

Seluruh fase yang dilalui pada cerita di atas, sama sekali tidak terikat dengan hitungan-hitungan usia. Mereka bisa melalui fase-fase tersebut hingga mencapai fase dewasa dilihat dari keberhasilan proses belajar yang mereka lakukan.

Jadi adakalanya lelaki usia 12 tahun sudah dianggap dewasa karena berhasil melalui proses belajar dengan baik. Tetapi adakalanya mereka yang berusia 20 tahun belum dianggap dewasa karena gagal dalam beberapa pelajaran. Untuk yang terakhir ini, jarang sekali terjadi. Setidaknya, saya belum pernah menemukan kasus ini.

Saya kira, apa yang diterapkan oleh Orang Rimba, jauh lebih jelas dan matang dalam menilai kedewasaan seseorang. Karena usia, sama sekali tidak menjamin seseorang bisa dianggap dewasa. Pola pikir, kemampuan untuk hidup mandiri, keahlian-keahlian menggunakan perkakas sebagai alat penunjang kehidupan, dan tanggungjawab terhadap keberlanjutan hidup komunitas sebagai legitimasi kedewasaan seseorang, jelas lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Ini tentu saja jauh lebih terukur dibanding sekadar menggunakan angka-angka untuk menilai kedewasaan seseorang.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)