Mengenal Kaswami, Olahan Singkong Khas Wakatobi

Saya tentu tak memperhitungkan tanaman singkong yang banyak tumbuh di pulau Wangi-Wangi karena sebagai manusia yang tumbuh berhimpitan dengan nasi, singkong saya anggap sebagai kudapan semata, “ruti sumbu” teman minum kopi atau teh di pagi dan sore hari.

Saya terjaga dari tidur siang selama 37 menit, bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, mengambil kunci sepeda motor, kemudian keluar dari kamar untuk menikmati senja di pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sudah memasuki pukul 16.19 WITA tetapi terik matahari masih menusuk di kulit.

Jalan poros di pulau Wangi-Wangi lengang, satu dua sepeda motor kadang melintas, selebihnya hanya sepeda motor yang saya tumpangi melintasi jalan. Gerombolan anak-anak bermain sepak bola di tepi jalan, di pantai berpasir, di bawah pohon kelapa yang empat batang di antaranya mereka jadikan tiang gawang alami. Gerombolan lainnya asyik bermain kelereng di halaman rumah kosong.

Dataran berkarang dan berkapur terhampar hampir di seluruh pulau. Kering dan gersang. Hanya semak belukar dan beberapa tumbuhan besar saja yang bisa tumbuh di atas tanah semacam ini. Masyarakat membangun rumah mereka di atas tanah karang berkapur. Pertanian tentu tak bisa diharapkan di sini. Lautlah yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat, selain jadi PNS tentu.

Beberapa warga yang rumahnya saya lalui tersenyum ramah, beberapa lainnya mengajak saya untuk singgah. Di pulau Wangi-Wangi, penduduk tinggal dalam perkampungan-perkampungan yang padat mengikuti garis pantai. Antara satu perkampungan padat dengan perkampungan padat lainnya dipisahkan lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar dan pohon singkong. Sedang di pusat kota, beberapa hotel terselip di dalam perkampungan.

Tak terasa hanya satu jam saja saya sudah selesai mengelilingi Pulau Wangi-Wangi. Ada satu yang paling menarik perhatian saya saat mengelilingi Pulau Wangi-Wangi. Hampir di sepanjang jalan saat melintasi perkampungan warga, benda berbentuk kerucut yang dibungkus plastik transparan berjejer disimpan di atas meja. Satu atau dua atau tiga sekaligus benda itu dipajang di atas meja.

Berbahan dasar singkong, setelah dikupas kulitnya, kemudian diparut hingga halus. Saat dirasa sudah benar-benar halus, air yang masih terkandung di dalamnya diperas hingga tiris. Selanjutnya serbuk singkong dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk kerucut yang terbuat dari daun kelapa. Dikukus sebentar saja, bisa di atas tungku berbahan bakar kayu.

Masyarakat di Kabupaten Wakatobi menyebut makanan ini kaswami. Sebelum beras diperkenalkan di Wakatobi, kaswami menjadi makanan pokok masyarakat di sini. Hingga kini, sesungguhnya kaswami masih menjadi makanan pokok di Wakatobi, terutama saat beras sulit didapat atau harganya sedang mahal.

Seperti juga beras yang diolah menjadi nasi, atau sagu yang dibakar atau diolah menjadi bubur papeda, kaswami disantap dengan lauk pauk ikan asap dan sayuran atau dengan lauk Ikan Parende (Ikan laut yang dimasak kuah kuning).

Satu kerucut kaswami dihargai Rp5.000. Untuk ukuran perut saya itu cukup untuk disantap dua kali makan, untuk sarapan dan makan siang atau untuk makan malam dan sarapan. Mendapatkannya mudah saja, hampir di sepanjang jalan di pulau Wangi-Wangi dapat ditemui pedagang kaswami.

Yang unik, para pedagang kaswami maksimal menjual 3 kerucut saja, tak lebih. Pak Ardi contohnya, tempat saya membeli satu kerucut kaswami, di halaman rumahnya ia hanya menjual 3 kerucut kaswami, 2 buah nanas, segenggam cabai merah, dan tiga botol bensin premium.

Awalnya, saat melihat lahan-lahan dengan struktur dasar batu karang berkapur di pulau Wangi-Wangi, saya beranggapan tak ada yang bisa diharapkan dari lahan-lahan semacam ini untuk ditanami makanan pokok.

Saya tentu tak memperhitungkan tanaman singkong yang banyak tumbuh di pulau Wangi-Wangi karena sebagai manusia yang tumbuh berhimpitan dengan nasi, singkong saya anggap sebagai kudapan semata, “ruti sumbu” teman minum kopi atau teh di pagi dan sore hari.

Namun ternyata, singkong yang diolah menjadi kaswami sudah sejak dahulu menjadi makanan pokok masyarakat Wakatobi. Saya harus kembali membongkar isi kepala, bahwa makanan pokok itu tidak melulu nasi.

Menyaksikan fakta ini, saya kemudian tersadar bahwa keanekaragaman pangan terutama makanan pokok di negeri ini begitu melimpah. Sayangnya, entah siapa yang memulai, saya tak tahu dan enggan mencari tahu, beras dianggap sebagai simbol ketahanan pangan nasional.

Masyarakat yang sebelumnya tidak menjadikan beras sebagai makanan pokok, pelan-pelan diminta untuk mengonsumsi beras dan meninggalkan makanan pokok mereka sebelumnya.

Di Papua, jutaan hektar hutan dan pohon sagu ditebang untuk diubah menjadi sawah dan perkebunan. Di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur, mereka yang sebelumnya tidak mengonsumsi beras kemudian pelan-pelan dikenalkan dengan beras dan akhirnya menjadikan beras sebagai makanan pokok. Mereka mulai mengalami kesulitan pangan, saat beras yang masuk berkurang dan harganya mahal.

“Dahulu sebelum beras diperkenalkan dan jadi makanan pokok kami, tak ada itu istilahnya krisis pangan. Setelah kenal beras, malah sering krisis,” ingat saya pada celoteh seorang kawan di NTT.

Di Wakatobi pun begitu. Kini beras sudah menggantikan fungsi singkong sebagai makanan pokok. Kaswami kini dianggap sekadar makanan selingan jika bosan dengan nasi. Atau sesekali dijadikan bahan candaan yang sayangnya sama sekali tak membuat saya tertawa. Begini candaannya, “Ah abang ini laki-laki kok belinya kaswami, harusnya kaistri.”

 

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)