Melawan Lupa Dengan Film “Istirahatlah Kata-Kata”

“Generasi muda patut tahu, bahwa buku sejarah yang ada belumlah lengkap. Kita berkewajiban menuliskannya dan terus mengingatnya. Puisi-puisi Wiji Thukul adalah penanda jaman yang sangat nyata”.

Hanya ada satu kata: Sunyi. Mungkin itulah kata yang tepat menggambaran film “Istirahatlah Kata-Kata” yang disutradarai ole Yosep Anggi Noen. Penggambaran yang jitu selama delapan bulan pelarian Wiji Thukul di Pontianak, Kalimantan Barat, bersembunyi dari kejaran aparat pada masa Orde Baru.

Satu adegan ketika Thukul berada di sebuah kamar berinding tripleks, duduk di kasur tak berdipan. Diam saja ia tanpa kata, matanya yang bicara menyulusuri seluruh ruangan kecil itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya, mungkin takut, mugkin membanyakan ke mana lagi setelah ini, mungkin mengingat kawan-kawannya, mungkin mencari kata-kata untuk puisinya, mungkin juga rindu.

Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto nampak begitu lusuh. Kulit gelapnya tampak mengkilap, kaos yang dikenakannya mungkin telah berhari-hari menempel di tubuhnya, bercelana pendek, dan rambut keriting yang tak rapi sama sekali. Adegan yang kemudian menjadi latar dari poster film tersebut.

Tak selalu sunyi dari awal hingga akhir, selingan canda tawa tetap ada dalam film itu, atau cengkrama bersama rekan-rekan yang melindunginya selama di Kalimantan. Tapi jangan berharap akan menemukan adegan-adegan saat ia ada di jalanan bersama buruh atau petani, memimpin perlawanan demi perlawanan terhadap rezim yang otoriter.

Mereka yang ada di balik layar memang bersepakat untuk tak mengambil cerita tentang perlawanan dan keberanian Thukul yang memang telah banyak tergambarkan dalam berbagai cerita. Sengaja dipilih pada saat pelariannya, cerita yang tak banyak diketahui oleh publik. Mengajak kita untuk melihat sisi lain dari Thukul yang mungkin berada di masa yang paling sulit dalam hidupnya.

“Ternyata menjadi buron itu lebih menakutkan, daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi,” begitulah sepenggal narasi yang diucapkan Thukul dalam film itu.

Bukan hanya penggambaran tentang pengasingan Thukul saja dalam film itu, namun juga memberikan cerita bagaimana keluarganya di Solo selama tak ada sang penyair di rumah mungil. Bagaimana Sipon (Istri Thukul) begitu sabar menanti, mendampingi saat ia ada di sisinya, dan melindungi Thukul dari pengawasan aparat dengan doa dan harapannya.

Bagaimana mereka saling menahan rindu, dan melampiaskannya dengan berbagai cara saat waktu bersua tiba.

Film Sejarah

Kebebasan berbicara dan berekspresi yang dirasakan saat ini tak bisa dilepaskan dari apa yang dahulu pernah diperjuangkan oleh Thukul dan kawan-kawannya. Jika saja sajak-sajaknya tak mampu menumbangkan Soeharto, maka jangan harap kita bisa berpuisi dengan dengan segala kebebasan kata dan pesan yang hendak kita sampaikan.

Dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone, produser film Yulia Evina Bhara menjelaskan bahwa film ini didedikasikan untuk generasi muda. “Generasi muda patut tahu, bahwa buku sejarah yang ada belumlah lengkap. Kita berkewajiban menuliskannya dan terus mengingatnya. Puisi-puisi Wiji Thukul adalah penanda jaman yang sangat nyata,” jelasnya.

Sejarah memang tak pernah jujur, begitu banyak cerita yang hilang dan dihilangkan. Seperti Wiji Thukul yang hilang dan dihilangkan. Menonton film ini mengajak kita untuk kembali mengingat fase sejarah kelam negeri ini. Saat suara-suara kritis benar-benar dihilangkan secara harfiah. Menonton film ini juga mengajak kita mengetahui, bahwa ada orang-orang hebat pemberani, yang memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan.

Kemerdekaan itu nasi
Dimakan jadi tai

Puisi “Kemerdekaan”, Agustus 1982

***

Saat ini, mungkin juga belum mendekati kondisi yang ideal dari apa yang dicita-citakan oleh Thukul. Karena keadilan sosial dan kemerdekaan belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh setiap orang di negeri ini. Problem-problem sosial, ekonomi, politik, masih banyak dan menjadikan rakyat kecil sebagai korban dari kepentingan-kepentingan para penguasa dan pemilik modal.

Namun Thukul telah memulainya bertahun-tahun lalu. Dan melalui film ini, diharapkan orang-orang dapat mengetahui dan memahami bahwa kebebasan yang dihirup saat ini tidak semata-mata muncul, tapi lahir dari sebuah perjuangan.

Harapan-harapan dari film ini bukan sekadar ditujukan bagi orang-orang muda, namun juga pada penguasa saat ini. Oleh karenanya, keluarga dan kerabat Wiji Thukul menyampaikan undangan kepada Presiden Joko Widodo untuk dapat menonton film “Istirahatlah Kata-Kata”.

Keinginan tersebut dilandasi satu fakta bahwa sejarah belum selesai, Thukul dan banyak aktivis lainnya belum ditemukan keberadaannya. Mereka ingin negara tergerak untuk menyelesaikan kasus penghilangan aktivis, menuntaskan sejarah, serta mewujudkan keadilan dan kemerdekaan yang dicita-citakan oleh Thukul.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.