Mbah Buri, Sebatang Kretek dan Cerita Singkat di Halaman Rumahnya

Sebungkus rokok yang sudah tak lagi penuh berisi ia keluarkan, ia tawarkan kepada saya. Lalu kami mengobrol sembari klepas-klepus menikmati kretek.

Suara orang mengaji mulai terdengar dari pengeras suara di masjid, salat Jumat tak lama lagi akan dimulai. Saya bergegas mandi, mengenakan pakaian terbaik yang ada, kemudian melangkah menuju masjid. Jarak dari tempat saya menginap ke masjid kurang dari satu kilometer. Akan tetapi jalan yang dilalui cukup terjal dan menanjak, karena masjid terdekat berada di puncak bukit.

Siang itu matahari terik menyengat. Belum genap satu minggu saya tinggal di Dusun Sumber Candik, Kecamatan Jelbuk, Jember. Keberadaan saya dan beberapa rekan di Dusun Sumber Candik adalah untuk menjalankan program pendidikan alternatif bagi anak-anak, remaja dan orang tua di sini. Kami menyebutnya program Sokola Kaki Gunung.

Di tengah jalan, saat napas kian berat dan saya memutuskan untuk kembali rehat sejenak, seorang nenek dengan rambut yang semuanya sudah memutih menyapa saya. Sebatang kretek terselip di jemari tangan kanannya. Selain kata “Cung” untuk sapaan nenek/kakek kepada cucunya, sayangnya saya tak mengerti apa yang nenek itu bicarakan. Ia berbicara menggunakan bahasa madura, saya sama sekali tak mengerti bahasa madura saat itu.

Nenek itu kemudian melanjutkan pekerjaannya, mengumpulkan rumput, daun-daun kering, ranting-ranting pohon, dan beberapa jenis bunga yang ia temukan di sepanjang jalan. Di tangan kirinya sebatang kayu digunakannya sebagai alat bantu untuk menyangga tubuhnya agar kuat berdiri dan tidak terjatuh saat melangkah.

Saat salat jumat selesai, saya berjalan pulang di belakang nenek itu yang juga sudah selesai mengumpulkan rumput, daun, ranting dan bunga yang entah untuk apa. Saya sampai di tempat tinggal selama di Sumber Candik, nenek itu melanjutkan perjalanan. Berselang sekira satu jam, nenek itu kembali melintas di depan tempat tinggal saya, sembari menyapa ia melanjutkan perjalanan.

Saat pulang ia kembali melintas, kali ini membawa setumpuk kayu bakar. Pemandangan seperti ini terjadi hampir setiap hari selama saya dan rekan-rekan tinggal di sebuah pondokan yang dibangun mendekati puncak bukit.

***

Semua orang di Sumber Candik menyapanya dengan sapaan Mbah Buri. Tinggal seorang diri di rumah berukuran 4 meter kali 3 meter. Lantainya tanah, kerangka rumah dan dinding terbuat dari bambu. Di belakang rumah sebuah tungku perapian hampir selalu menyala. Di depan rumah, sebuah kursi memanjang biasa digunakan untuk bersantai-santai. Dua buah pelita berbahan bakar minyak jadi sumber cahaya saat malam hari. Di rumah Mbah Buri, aliran listrik tidak sampai.

Sejak tim Sokola Kaki Gunung mendapat hibah sebidang tanah untuk membangun tempat tinggal, hibah dari salah seorang orang tua murid, kami bertetangga dengan Mbah Buri. Di kursi di depan rumah Mbah Buri lah, kami kerap bercengkerama dan mendengar cerita-cerita dari Mbah Buri. Dari tetangga-tetangga lainnya cerita-cerita tentang kehidupan Mbah Buri juga kerap saya dapat.

Saat tentara Jepang mulai masuk ke wilayah Jember dan sekitarnya, Mbah Buri berusia sekira 7 tahun. Aktivitas tentara Jepang di kota Jember juga di pegunungan Iyang terdengar dalam cerita-cerita keseharian masyarakat di Sumber Candik saat itu. Mbah Buri yang saat itu hampir setiap hari mendengar cerita tentang tentara Jepang, hingga saat ini masih sedikit mengingat walau samar, masa-masa penjajahan oleh Jepang.

Lain halnya dengan peristiwa pembunuhan massal selepas kudeta merangkak G30S yang dimulai sejak tahun 1965 hingga beberapa tahun setelahnya, Mbah Buri masih cukup baik mengingatnya. Menurut ceritanya, pembunuhan di mana-mana terjadi, bahkan hingga di dusun-dusun yang terletak jauh dari pusat kota. Kejadian pahit itu menjadi ingatan buruk yang selalu tersimpan dalam memori di kepalanya.

Suami Mbah Buri sudah lama meninggal dunia, ia lupa kapan tepatnya. Dengan suaminya, Mbah Buri memiliki 5 orang anak, semuanya sudah menikah dan tinggal jauh di dusun-dusun di selatan Sumber Candik, jauh di bawah. Mbah Buri enggan tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucunya, ia memilih tinggal seorang diri di kaki gunung, di Dusun Sumber Candik.

Dahulu, Mbah Buri berprofesi sebagai dukun beranak dan dukun untuk menyembuhkan anak-anak yang terserang penyakit. Ilmu pengobatan itu ia pelajari dari Ibunya, dan menurut Mbah Buri, ilmu ini memang diwariskan turun-temurun entah sejak kapan. Namun, sejak pemerintah lewat dinas kesehatan melarang ibu hamil melahirkan di dukun beranak (jika nekat, akta kelahiran tidak akan diberikan), harus di bidan yang memiliki sertifikat sebagai legalitas, keahlian Mbah Buri sebagai dukun beranak sudah jarang dimanfaatkan, ia kini sebatas mengobati anak-anak yang sakit.

Setelah mendapat informasi ini, saya jadi tahu mengapa Mbah Buri hampir setiap hari mengumpulkan daun kering, rumput, ranting-ranting, dan beberapa jenis bunga. Semua itu ia gunakan untuk membuat ramuan yang akan digunakan sebagai obat. Beberapa tahun yang lalu, Mbah Buri kecelakaan, ia terjatuh saat berjalan. Kaki kirinya patah. Itulah yang menyebabkan Mbah Buri membutuhkan kayu sebagai tongkat untuk membantunya melangkah jika harus berjalan jauh.

***

Hujan baru saja reda, tersisa sedikit gerimis menghiasi senja. Mbah Buri sedang di perapian rumahnya saat saya tiba. Ia menyambut saya dengan senyuman, lalu menawarkan diri untuk membuatkan saya segelas kopi. Saya menolak dengan alasan baru selesai ngopi. Ia kemudian menyuguhi saya berbungkus-bungkus roti berisi selai rasa durian.

Sebungkus rokok yang sudah tak lagi penuh berisi ia keluarkan, ia tawarkan kepada saya. Lalu kami mengobrol sembari klepas-klepus menikmati kretek. Roti yang ia suguhkan adalah makanan Mbah Buri sehari-hari. Gula, teh, kopi, kretek dan bermacam jajan pasar, ia dapat dari orang tua yang anaknya diobati dan dijampi Mbah Buri. Para tetangga yang rutin mengantarkan semua itu untuknya.

Saat ada pasien yang memberi uang kepadanya, ia akan memanfaatkan uang itu untuk membeli lauk dan sayur kesukaannya, ikan laut dan terong, seperti yang saya lihat sore itu. Sore itu, ada banyak hal yang Mbah Buri ceritakan, sayangnya kemampuan bahasa madura saya masih terlalu minim untuk tidak dibilang tak bisa sama sekali.

Jadi saat saya mengerti, saya akan menjawab atau berbicara kepada Mbah Buri dengan bantuan gerak tubuh dan mimik wajah. Tapi, semua itu sama sekali tak mengganggu keakraban kami. Kadang saya berpikir, bahasa memang sedikit di bawah rasa, jika sudah merasa nyaman dan butuh teman untuk mengobrol, kendala bahasa bisa disingkirkan.

Rotan, salah seorang volunteer Sokola Kaki Gunung berkata tentang interaksi intensifnya dengan Mbah Buri. “Biarpun nggak ngerti bahasa madura, tapi aku senang dengar Mbah Buri cerita, menyenangkan, asyik, nyaman,” ujar Rotan.

mm

Fawaz al Batawy

KONTRIBUTOR

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)