Kretek Congress: Memproduksi yang Bisa Dikonsumsi, Mengkonsumsi yang Kita Produksi

Produksi kretek ini adalah simbol perlawanan rakyat terhadap pasar, khususnya terhadap invasi rokok putih yang bukan merupakan budaya dari Indonesia.

Merknya kretek Congress. Melilih menggunakan bahasa internasional (Inggris) ketimbang bahasa Indonesia. Bukan karena tak mencintai bahasanya sendiri, namun memang sengaja memilih menggunakan bahasa internasional karena membawa semangat internasionale. “Kongres itu juga adalah mimpi kita. Mimpi untuk menggelar sebuah kongres rakyat yang besar. Namun itu nanti, setelah kita berhasil membangun kekuatan ekonomi dan politik yang mandiri,” ujar Sastro, Sekjend Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI).

Desain bungkus dari sigaret kretek tangan ini berwarna hitam dan putih, tak lupa satu bintang berwana kuning emas. Cukup dengan harga Rp8.000 saja, sebungkus kretek ini bisa anda nikmati. Rasa boleh diadu dengan SKT yang diproduksi oleh industri-industri kretek besar.

Menurut Sastro, sapaan akrab dari lelaki yang bernama asli Anwar Ma’ruf, kretek Congress ini pertama kali diproduksi pada tahun 2012, dan sempat menghentikan produksinya lantaran citarasa dari kretek ini kurang bisa dinikmati orang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Pak Jum, seorang blended kretek dari Tulungagung, Jawa Timur.

Pak Jum pernah beberapa kali memproduksi kretek, namun bisnisnya tak berkembang. Ia sangat idealis. Ia hanya mau memproduksi kretek dengan komunitas masyarakat saja, beberapa kali ia diajak kerjasama dengan pabrikan besar, tapi ditampiknya. Ia memproduksi kretek hanya untuk kebutuhan sehari-hari dan dibagi kepada rekan-rekannya saat sedang berkumpul-kumpul.

“Kawan-kawan komunitas Migran Center di Tulungagung, organisasi anggota dari KPRI, punya usaha bersama bikin pakan ternak. Kebetulan Pak Jum ini juga punya usaha ternak kambing lumayan banyak. Dari situ dia diajak barter, dia kita bantu supply pakan ternak, sementara dia bantu kita untuk produksi kretek,” cerita Sastro perihal pertemuannya dengan Pak Jum.

Kretek buatan Pak Jum ini cukup bisa diterima oleh lidah, jauh berbeda dengan kretek Congress ketika pertama kali dibuat dulu. Setiap anggota organisasi diinstruksikan untuk mengkonsumsi kretek Congress. “Kalau kalian kader organisasi, pilih berhenti merokok atau beli rokok buatan organisasi ini,” ungkap Sastro menirukan instruksi kepada setiap anggotannya.

Sebelum tangan Pak Jum mengolak kretek Congress, kualitas rasa dari kretek Congress masih sangat buruk. Sastro kerap mendengar selentingan di belakang telinganya perihal rasa kretek yang tak enak ini, “rokok sampah”. Distribusi juga tak berhasil, mungkin juga lantaran rasa yang tak karuan. “Aku sendiri kalau ngisep kretek ini dulu rasanya juga gak enak, tapi aku paksa,” ujarnya sembari terkekeh.

Karena dianggap gagal, maka produksi kretek sempat dihentikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Berbagai kritik dan masukan perihal citarasa kretek ditampung, hingga akhirnya bertemu dengan Pak Jum dan berkomitmen untuk melanjutkan kembali produksi kretek Congress.

Manifesto Ekonomi

Gagasan memproduksi kretek ini berawal dari diskusi yang diselenggarakan oleh KPRI dengan tajuk “Manifesto Ekonomi: Antara Reforma Agraria dan Industrialisasi Nasional”. KPRI yang menaungi berbagai serikat tani, serikat buruh, kaum miskin kota dan sektor-sektor masyarakat lainnya, sudah berkali-kali mencoba membangun basis produksi. Namun barang yang diproduksi oleh organisasi tak selalu dikonsumsi oleh anggota.

Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi kegagalannya. Misalnya ketika memproduksi kopi, tapi anggotanya tidak mengkonsumsi kopi buatan organisasi, lebih memilih mengkonsumsi kopi saset di warung. Begitu juga dengan beras, sayuran. Atau ketika mencoba bertenak lele, namun kalah bersaing dengan produsen lain yang lebih besar. Padahal produksi itu dilakukan sebagai upaya mengejawantahkan Manifesto Ekonomi, untuk menata basis produksi masyarakat.

Penataan basis produksi merupakan salah satu pilar dari Manifesto Ekonomi yang menjadi pegangan organisasi untuk menuju kemandirian ekonomi organisasi dan ekonomi kerakyatan. Pilar yang lain adalah menata basis distribusi, menata basis konsumsi dan kelembagaan ekonomi (koperasi), yang berfungsi untuk menjalankan roda produksi, distribusi dan konsumsi.

Dari ketidakberhasilan berproduksi yang berelasi dengan konsumsi tersebut, KPRI mengambil langkah terobosan untuk memulai kemandirian dengan kedaulatan konsumsi. Mereka menilai bahwa pola konsumsi itu bisa diarahkan, selama produk yang dihasilkan tidak ala kadarnya, produknya tetap menjaga kualitas, mampu bertarung di pasaran, harga yang bersaing, dan keberlanjutan produksi. “Kretek ini kita pilih sebagai sebuah proyek uji coba, dan sebagai sebuah simbol dari kedaulatan konsumsi,” kata Sastro.

Sejauh tiga bulan produksi kretek Congress, mereka yakin keuntungan dari penjualan akan dapat menghidupi roda organisasi. Saat ini target pasar dari kretek Congress masih menyasar serikat anggota KPRI, di 20 kota di Jawa saja, untuk memudahkan distribusi.

Sastro menjelaskan bahwa kretek ini bisa dibeli dan dikonsumsi oleh anggota organisasi, selain karena rasa yang sudah lebih baik dari sebelumnya, juga dibarengi dengan penyadaran kepada anggota kenapa harus mengisap kretek Congress, bukan kretek lainnya. Disampaikan kepada anggota organisasi bahwa yang sedang mereka lakukan adalah upaya untuk menata basis konsumsi, agar bisa berdaulat dalam memilih barang konsumsi tanpa diatur oleh pasar yang ada.

Ia terus meyakinkan kepada anggotanya jika bisa memproduksi rokok, artinya bisa juga memproduksi beras, keripik, sabun atau barang konsumsi lainnya yang dibutuhkan. Produksi kretek ini diharapkan menjadi insipirasi agar bisa memproduksi dan mengkonsumsi barang lainnya. “Kita bisa produksi apa yang bisa konsumsi, dan mengkonsumsi apa yang kita produksi. Jadi kemandirian organisasi dan kedaulatan rakyat akan tumbuh,” ujarnya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh KPRI di 5 kota yang menjadi basis dari KPRI, menunjukan bahwa rata-rata konsumsi satu keluarga per bulan untuk 16 item kebutuhan pokok mencapai angka Rp2 juta. Misalnya penelitian di salah satu basis di Serikat Petani Pasundan yang memiliki anggota 35.000 orang, jika pengeluaran konsumsi 2 juta per bulan, maka total pengeluaran mencapai Rp70 miliar per bulan. Paling tidak ada selisih keuntungan 10% dari setiap perdagangan, maka ada selisih Rp7 rupiah.

Begitu juga dengan anggota Federasi Sertikat Buruh Karya Utama di Tangerang yang memiliki anggota 5.000 orang. Ada Rp10 miliar uang beredar dari pengeluaran untuk konsumsi, dengan estimasi keuntungan 10%, maka ada selisih 1 miliar per bulan. “Bayangkan jika organisasi rakyat mampu memenuhi kebutuhan konsumsi itu, maka berapa keuntungan yang bisa didapat. Hingga organisasi dan anggotanya dapat hidup secara mandiri dan berdaulat,” ujarnya membayangkan.

Produksi kretek ini adalah simbol perlawanan rakyat terhadap pasar, khususnya terhadap invasi rokok putih yang bukan merupakan budaya dari Indonesia. “Rokok menjadi simbol yang penting. Orang Indonesia masih banyak yang merokok, walau kampanye antirokok itu gila-gilaan. Tapi ini budaya, pergaulan, atau ungkapan ‘gak bisa mikir kalau ngerokok,’ kebiasaan mungkin. Tapi kretek ini juga yang menghidupi Indonesia. Ketika krisis apa satu-satunya yang bisa bertahan?” sambungnya.

Produksi kretek Congress juga diberikan makna perlawanan terhadap kepentingan modal asing dan borjuasi-borjuasi yang menggunakan regulasi untuk menggerus usaha kecil atau usaha rakyat di pedesaan. “Dengan kretek Congress ini, kita bisa melawan perusahaan besar yang melakukan kecurangan terhadap politik larangan merokok yang sebenarnya itu juga menguntungkan industri besar,” ujarnya penuh semangat.

Produksi Kretek Congress

Mendorong organisasi untuk berproduksi dan juga mengkonsumsi produknya sendiri, adalah bagian dari upaya dari KPRI untuk memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang ekonomi. KPRI yang memiliki cita-cita menjadi sebuah organisasi politik dan dapat berkuasa di Indonesia, menilai bahwa pengalaman di bidang ekonomi menjadi sangat penting. Karena banyak presiden yang memimpin secara politik di sebuah negara, namun tidak dapat berkuasa secara ekonomi.

Dalam setiap batang kretek Congress sendiri terdapat 13 jenis tembakau yang dominannya berasal dari Madura. Tembakau lainnya berasal dari Temanggung, Garut, Lumajang, dll. Bahan baku kretek Congress memang belum bisa dipasok dari basis petani tembakau yang menjadi anggota organisasi, karena mereka masih menjual hasil pertanian tembakaunya di pasaran. Sehingga bahan baku tembakau kretek Congress juga masih diambil dari pasar. Hal ini terkait dengan belum mampunya KPRI menanta basis produksi, dan memilih fokus pada penataan basis konsumsi.

Menurut Sastro, produksi kretek Congress per bulan mencapai 12.900 bungkus, yang didistribusikan ke basis-basis anggota organisasi di sekitaran Jawa. Adapun keuntungan dari hasil penjualan dibagi tiga. “Untuk KPRI sudah pasti, tapi juga untuk organisasi anggota KPRI di daerah yang menjadi distributor, serta reseller perorangan,” Jelasnya.

Pihaknya juga membuka diri bagi pihak lain yang ingin bekerja sama menjadi distributor kretek Congress ini. Harga yang ditawarkan sebesar Rp8.000 per bungkus. Namun jika yang menjadi mitra distribusi adalah serikat buruh atau organisasi masyarakat lainnya, akan diberikan harga Rp7.500 per bungkusnya. Harga khusus untuk serikat ini semata dimaksudkan agar serikat dapat mengambil selisih keuntungan yang lebih, sehingga serikat mendapatkan pemasukan kas organisasi bukan hanya dari iuran anggota.

“Kalau ada yang berminta menjadi distributor, bisa datang langsung ke sekretariat KPRI di Jln. Mampang Prapatan IV No. 80 RT 006 RW 002 Kel. Tegal parang Kec. Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan 12790. Atau telp saja ke 021-7990375,” pungkasnya menyudahi cerita tentang kretek Congress.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.