Ketika Raja Salman Piknik ke Bali

Sementara Bali, meskipun sudah kesohor di negara-negara Eropa dan Amerika belum menjadi destinasi favorit bagi orang Arab. Bagi orang-orang Arab yang datang ke Indonesia, sejauh saya ketahui, kawasan Puncak, Bogor.

Bagaimanapun juga Bali sebagai tujuan wisata internasional tentu punya magnet tersendiri bagi orang-orang yang belum mengunjunginya. Namun hingga saya berusia 32 tahun, saya belum pernah menginjakan kaki saya di Bali.

Kebetulan saat SMA-pun, Bali masih menjadi tujuan piknik yang “makruh”, itu menurut guru-guru saya. Dan SMA tempat saya bersekolah waktu itu memang tidak mempunyai agenda piknik tahunan seperti sekolah lainnya. Sialnya setelah saya lulus SMA, adik-adik kelas saya rutin setiap tahun piknik kesana. Lagi-lagi saya menjadi orang tidak beruntung dalam urusan ke Bali ini.

Karena bukan pangeran dari kerajaan Arab, piknik ke Bali tentu masih angan-angan belaka sampai saat itu. Namun akhirnya atas kebaikan para petinggi perusahaan di tempat saya bekerja, mereka mentraktir saya piknik ke Bali. Meskipun ada misi pekerjaan, tapi agenda ke Bali paling penting saat itu hanya satu. Piknik.

Sekarang, Bali kembali heboh dengan rencana datangnya Raja Salman dan rombongannya ke Indonesia untuk urusan kenegaraan dan liburan ke Bali. Lini massa heboh, ada yang sinis, ada yang bangga, dan banyak yang biasa-biasa saja. Polarisasinya masih sama dengan nuansa Pilpres 2014 lalu.

Yang tidak suka dengan pemerintahan sekarang mencibir habis-habisan pendukung pemerintah yang diam saja dengan kedatangan Raja Salman dengan membawa duit yang banyak. Mereka menganggap kedatangan Raja Arab itu sebagai bentuk kebaikan hatinya kepada Indonesia.

Meskipun secara obyektif dalam hubungan bilateral semacam ini tentu banyak motif yang harus diperhatikan dan dikritisi dengan bijak. Dari segi waktu kunjungan kenegaraan sebetulnya normal-normal saja kunjungan Raja Arab ke Indonesia. Menjadi spesial ketika kunjungan ini digunakan sekaligus untuk liburan Raja Salman dan keluarganya. Tentu kunjungan kenegaraan plus liburan ini menjadikan kunjungan Raja Salman teramat spesial bagi negara ini.

Daya tawar Bali sebagai tujuan wisata dunia yang telah dikunjungi oleh seluruh pesohor tentu memikat Raja Arab dan keluarganya untuk ikut mengunjungi Bali. Sebelumnya Eropa dan negara-negara di kepulauan pasifik adalah tujuan piknik favorit keluarga Raja dan orang-orang kaya di Arab Saudi.

Sementara Bali meskipun sudah kesohor di negara-negara Eropa dan Amerika belum menjadi destinasi favorit bagi orang Arab. Bagi orang-orang Arab yang datang ke Indonesia, sejauh saya ketahui, kawasan Puncak, Bogor, masih menjadi tujuan favorit mereka. Nah, urusan piknik memang agenda penting dalam kunjungan bersejarah Raja Salman ke Indonesia.

Beberapa komentar dan analisa dari warga dunia maya yang cukup riuh dalam menyambut kunjungan Raja Salman, menunjukkan betapa pentingnya kunjungan ini. Salah satu analisa yang saya anggap paling obyektif adalah kedatangan Raja Salman yang tidak dapat dipisahkan dari motif ekonomi Arab Saudi yang berkaitan erat dengan visi ekonomi Arab Saudi pada tahun 2030.

Arab Saudi mulai menyasar sektor pariwisata sebagai tujuan investasi mereka, di luar minyak. Keberadaan dua kota suci Makah dan Madinah adalah magnet bagi orang muslim di seluruh dunia untuk berkunjung ke Arab Saudi. Tidak cukup dengan wisata religi, meraka tentu harus mengembangkan tujuan wisata yang lain, selain wisata religi yang sudah menjadi patron mereka.

Oleh karenanya, liburan Raja Salman ke Bali saya kira bukan semata piknik selama empat hari, dari tanggal 4 sampai 9 Maret 2017. Mungkin saja ia mengincar lokasi-lokasi wisata di Indonesia untuk menjadi sasaran investasinya. Mengingat Indonesia juga telah mencanangkan 10 destinasi wisata di Indonesia, sebagai sasaran bagi wisatawan mancanegara.

Wisatawan dari timur tengah ke Indonesia sendiri masih sangat kecil di bandingkan dengan negara-negara lain. Namun pemerintah terus mentargetkan peningkatan kunjungan wisatawan Arab ke Indonesia. Sebanyak 360 ribu wisatawan dari Arab ditargetkan oleh Kementerian Pariwisata untuk tahun ini.

Indonesia membua wilayahnya untuk investasi sektor pariwisata, sementara Arab Saudi punya uang yang banyak, namun tak punya tempat wisata yang beragam. Maka pertemuan antara dua negara ini sudah cocok, pucuk dicinta ulam pun tiba. Begitu kira-kira peribahasanya.

Bi NTB tepatnya di Mandalika, pemerintah telah menyiapkan tanah sekitar 1.100 hektar. Di Sumbar itu di sekitar Pesisir Selatan kawasan Mande, tersedia sekitar 400-an hektar yang sudah bisa dikerjasamakan dengan investor di Saudi Arabia. Juga rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus pariwisata seperti di Tanjung Kelayang, Belitung atau di Tanjung Lesung, Banten, atau Mandalika.

Dengan bergelimpangan hartanya, Arab tinggal menunjuk wilayah pariwisata mana yang ingin ia invest. Mungkin saja, liburan Raja Salman ke Bali adalah salah satu bentuk survei lokasi dulu, mencoba dulu bagimana enaknya liburan di pantai tropis. Andai sreg dengan wisata di Bali, ia bisa lempar uangnya untuk investasi di sektor pariwisata di Indonesia.

Dengan semakin tipisnya cadangan minyak, bahkan Arab Saudi adalah negara dengan cadangan yang paling tipis dari dari cadangan minyak yang dimiliki negara-negara di Jazirah Arab, mereka tentu berkepentingan untuk menginvestasikan duit yang diperoleh dari jualan minyak mentahnya ke Amerika.

Dalam rangka piknik ke Bali baik kiranya jika Raja Salman tidak hanya menikmati keindahan alamnya saja. Keunikan Bali bukan hanya dari pantai dan keindahan alamnya. Adat istiadat Bali adalah tujuan piknik yang sangat menarik, dan saya yakin hal ini yang membedakan dengan kunjungan Raja Salman ke Eropa atau Pasifik.

Kalau boleh mengusulkan silakan undang sebanyak-banyaknya pelaku seni di Bali untuk menyuguhkan berbagai pertunjukan kepada anda. Dan yang paling penting, ajaklah budayawan di Bali untuk bertukar pikiran dalam membangun kebudayaan yang mempersatukan umat, untuk menunjukkan Arab Saudi sebagai negara yang posisinya penting di dunia ini dalam hal menjalin hubungan harmonis antar negara dan antar umat.

Harapan saya tentu setelah ini Raja Salman dapat meneruskan hubungan bilateral dengan Indonesia terutama dalam membangun penguatan kebudayaan yang selama ini terbengkalai. Bukan hanya untuk memamerkan kemewahan kekayaan anda.

mm

Zulvan Kurniawan

Ketua Pekerja

Penikmat tembakau, teh, dan camilan yang renyah. Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK)