Herman Hesse dan Siddhartha

Siddhartha, mendahului Socrates, menandaskan bahwa kebenaran sejati dan kebijaksanaan itu tidak pernah bisa diajarkan, bahkan sekalipun itu ajaran Buddha.

sidharta-herman-hesse-01

Siddhartha kali ini bukanlah Pangeran Siddhartha Gautama, si-pembawa ajaran Budhisme dari Kapilavatthu sekaligus ditafsirkan sebagian kaum Muslim sebagai Nabi Zulkifli. Tapi Siddharta ini juga sama-sama digerakan dorongan kuat kegelisahan pencarian kesejatian diri.

Hidup sezaman Pangeran Gautama. Tapi bukan berasal dari keluarga ksatria, lebih-lebih putra mahkota. Siddhartha berasal dari wangsa brahmin. Sejak kecil oleh ayahnya dididik ketaatan dogmatis pada nilai-nilai tradisi agama. Sosok pemuda yang digambarkan tampan dan cerdas serta memiliki pendirian kokoh itu memiliki sahabat juga putra brahmin. Govinda namanya, yang sepenuh hati dan tulus sangat mengasihinya. Baginya, Siddhartha bisa membangkitkan kebahagiaan pada setiap orang juga hatinya. Bahkan Govinda meyakini sahabatnya itu suatu saat pasti mencapai pencerahan, dan itu juga berarti akan membawa pencerahan dirinya.

Ironisnya, Siddhartha tak merasakan kebahagiaan. Keresahan yang didorong oleh hadirnya pertanyaan dan pencarian dirinya terus saja merajai pikiran dan hatinya. Seluruh ritual dan ritus pengorbanan tradisi Hinduisme yang diajarkan keluarganya sejak kecil mulai dipertanyakan. Kasih sayang ayah dan ibunya serta sahabatnya juga tak mampu meredakan resah itu.

Di tengah gulana itu Siddhartha bertemu beberapa samana, yakni mereka yang menjalani kehidupan asketis dengan disiplin rohani sangat keras demi merealisasi kondisi kesadaran nir-ego. Hati Siddhartha tergerak mencari kebahagiaan dan makna hidup sejati dengan menjalani laku samana. Setelah menceritakan panggilan hatinya pada Govinda, dia memohon restu ayahnya. Mulanya ayahnya tentu tak merestui, tapi berkat keteguhan hati Siddhartha tiada jalan lain selain memberkati kepergian buah hatinya satu-satunya itu.

Berikutnya dikisahkan Siddhartha menjalani fase kehidupan samana. Govinda setia mengikuti di belakang langkahnya. Belajar pada seorang samana tua, tinggal di tepi hutan, menjadi pengemis, dan melatih disiplin rohani secara ektra keras. Puasa berhari-hari, belajar menghentikan nafas, menghentikan detak jantung, mematikan hasrat tubuh dan diri. Tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang. Rambutnya panjang dan kotor. Kulitnya legam berdebu. Ketampanannya nisbi tak berjejak. Hasilnya Siddhartha mampu mempelajari berbagai teknik meditasi tingkat tinggi, bahkan melebihi capaian Guru samana-nya sendiri.

Tapi, keresahan hatinya itu toh tetap tak sirna sepenuhnya. Kebahagiaan sejati yang hadir dari pencerahan purna tak jua hadir. Siddhartha kembali meragukan apa yang dipelajarinya akan membawanya pada pencerahan sempurna. Hingga suatu saat hari terbetik berita munculnya seorang manusia suci bernama Pangeran Gautama, seorang Buddha yang telah berhasil mengatasi penderitaan dunia dan sepenuhnya terhenti dari siklus tumimbal-lahir dengan kekuatannya sendiri. Siddhartha diikuti Govinda memutuskan meninggalkan komunitas samana dan pergi menemui Pangeran Gautama, manusia agung itu.

Tiba di kota Shravati, Siddhartha berhasil menemui Gautama. Di Taman Jeta, tempat Sang Buddha mengajar, bersama ribuan orang keduanya turut mendengarkan ajaran Dhammacitta. Namun ajaran itu rupanya tak memuaskan hatinya. Bahkan ia memutuskan untuk melanjutkan pencarian spiritualnya ketika Govinda memutuskan diri ditasbihkan menjadi murid Buddha. Siddhartha dan Govinda pun berpisah, kedua sahabat itu menempuh jalan takdirnya masing-masing.

“Benar, Engkau telah melampaui kematian dan kelahiran, oh Sang Agung. Tapi, ini semua hadir padaMu sebagai buah pencarianMu, renungan dan jalanMu sendiri, meditasi, melalui keyataan hidup dan pengalaman pencerahanMu. Tapi, itu semua jelas bukan datang melalui ajaran. Tapi, melalui pencarian dan penemuanMu sendiri, wahai manusia suci. Inilah pemahaman dan kesadaranku ketika mendengarkan ajaranMu semalam. Juga jadi alasan utamaku mengapa aku memutuskan melanjutkan pencarian sendiri. Bukan untuk mencari ajaran atau Guru lain, tapi justru meninggalkan semua ajaran dan semua Guru. Aku bermaksud meraih tujuanku sendiri dengan jalanku” ujar Siddartha kepada Pangeran Gautama pagi itu di Taman Jeta.

Sementara, Pangeran Gautama memperingatkan Siddhartha bahwa kecerdasannya sangatlah luarbiasa sekaligus berbahaya. Siddhartha, mendahului Socrates, menandaskan bahwa kebenaran sejati dan kebijaksanaan itu tidak pernah bisa diajarkan, bahkan sekalipun itu ajaran Buddha. Kesadaran akan kebenaran sejati itu harus dicari dan dialami sendiri, dan semua itu bergantung pada usaha masing–masing.

Lantas, Siddhartha mulai melanjutkan pengembaraannya, tanpa arah tujuan selain mengalir mengikuti gerak hatinya. Setelah menumpang sebuah sampan, sampailah ia pada sebuah kota besar sebelum sore. Di sana ia bertemu dengan pelacur kelas tinggi yang tersohor cantiknya. Kamala nama wanita itu, dan segera pucuk dicinta ulam tiba. Jatuh cintalah Siddharta pada pandangan pertama. Setelah mandi, memotong dan meminyaki rambut serta mencukur bersih cambangnya Siddhartha menemui sang pujaan hati, Kamala, dan meminta pengajaran.

“Dan kalau kau tidak keberatan, Kamala, aku ingin memintamu menjadi teman dan guruku, karena aku belum tahu apa pun tentang seni yang sudah kaukuasai pada tingkat tertinggi” kata Siddhartha ketika bertemu pelacur cantik itu.

Ilustrasi
Ilustrasi
mm

Waskito Giri

Editor

Penulis, pemilih Jokowi, dan meyakini Nusantara sebagai asal-usul peradaban dunia. Kolektor keris.