REVIEW

Enny Arrow Ala Jawa

Namun demikian tetap susah diketahui, apakah naskah-naskah ini sebatas karya fiksi dan bersifat hiburan semata, atau merupakan salah satu potret realitas budaya Jawa pada zamannya.

 

enny-arrow-ala-jawa-inner1

[dropcap]A[/dropcap]dalah keliru membayangkan etika Jawa itu dibalut moralitas serba puritan, sekalipun di sana-sini ‘unggah-ungguh’ dalam interaksi sosial karena perbedaan hirarki status sosial atau usia secara tradisional memprasaratkan pemakaian bahasa yang satu sama lain berbeda. Sebaliknya malah boleh dikata budaya Jawa itu senyatanya bercorak liberal bahkan permisif. Ini setidaknya terdokumentasi atau minimal terekspresikan dalam banyak serat Jawa.

Ambil contoh ensiklopedi Jawa yaitu Serat Centhini, misalnya. Bukan hanya memuat deskripsi tentang adat istiadat Jawa dan ajaran spiritual Islam-Jawa, namum juga kisah asmara romantis nan rohaniah hingga petualangan erotisme cabul. Serat yang punya nama lain Suluk Tambangraras menjadi lebih menarik perhatian karena topik seks dalam keragaman orientasinya itu, konon justru ditulis oleh Sinuhun Pakubuwono V sendiri. Sesi topik itu bukan ditulis oleh tiga pujangga kraton yang ditugaskan Sinuhun melakukan kerja investigasi dan dokumentasi di lapangan. Selain itu, Serat Centhini juga mencatat fenomena bestiality, yaitu hubungan seks manusia dan binatang, sekalipun konteksnya sebagai piranti obat penderita rajasinga berdasarkan wangsit sebuah mimpi. Fenomena bestiality tercatat pada Serat Centhini Jilid X, Pupuh XI.

Susah memahami logika pengobatan tradisional Jawa a-la Centhini ini. Bagi orang penderita siphilis, berhubungan seks dengan kuda bisa jadi bukannya kesembuhan didapat tapi sebaliknya malah semakin parah. Lantas, pertanyaannya: apakah seburuk itu kemampuan pengobatan tradisional Jawa? Atau, apakah narasi itu punya makna simbolik tertentu, misalnya sebagai sindiran atau ejekan pada pihak yang menderita rajasinga mengingat penyakit ini dulunya umum diindap di lingkungan para elit atau bahkan raja? Atau barangkali juga pupuh itu bermaksud memotret realitas menggejalanya fenomena bestiality itu sendiri, sekiranya penulisan serat ini dimaksudkan sebagai semacam ensiklopedia? Entah. Kita susah menduga konteks latarbelakang dan maksud penulisan narasi Pupuh XI itu.

Namun dari penelusuran literatur dan teks-teks Jawa masa lalu, Salfia Rahmawati (2014) menemukan cukup banyak bukti bahwa bestiality bukanlah semata fenomena Serat Centhini. Bestiality juga terdapat pada banyak serat lainnya. Barangkali kualifikasi serat ini bukanlah bernilai susastra adiluhung layaknya Serat Centhini. Popularitasnya sudah tentu nisbi kalah jauh juga. Tapi kontennya sungguh bakal mengejutkan siapapun pembacanya, bahkan termasuk bagi orang Jawa sendiri yang sudah menyadari bahwa budaya Jawa-nya itu sejatinya bercorak liberal atau terbuka.

Ya, “Serat Narasawan” demikian nama naskah itu. Ditulis atau lebih tepatnya dicetak di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1930-an, oleh sebuah badan usaha penerbitan bernama Kariosentono. Teks ini ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa, di mana tuturan bahasa yang digunakan berada pada tingkatan ngoko dan krama madya. Mengacu pada punggung naskah terdapat keterangan bertulisakan “Tjerma”, sehingga diduga kuat teks ini ditulis oleh Cermapawira dari Ngabangan, Godean, seorang dalang yang dikenal produktif menulis cerita carangan pada kisaran 1930-an.

Menariknya, Serat Narasawan tak ditemukan dalam daftar Literature of Java yang disusun oleh Pigeaud; tak jua tercantum dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Museum Sonobudaya Yogyakarta; juga tak terdaftar pada Javanese Literature in Surakarta Manuscript yang disusun Nancy K. Florida. Naskah Narasawan hanya ditemukan pada daftar Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jilid IV, tercatat dengan kode naskah AS 75. Naskah ini dulunya milik Artati Sudirdjo, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Presiden Soekarno. Berdasarkan keterangan katalog, Sudirdjo mendapatkan naskah ini dari kolektor dan pemburu naskah-naskah kuno Belanda, Ir. J.L. Moens. Sementara menurut keterangan Moens, naskah-naskah itu dia kumpulkan dari dalang-dalang di daerah Yogyakarta, dari Godean, Gunung Kidul hingga Kulon Progo pada kisaran tahun 1930 – 1942. Diantara naskah-naskah temuan Moens, salah satunya ialah Serat Narasawan.

Kembali soal konten. Apa yang membuat para pembaca bakalan ‘cultural shock’ ialah, bahwa topik seks pada narasi Serat Narasawan itu menceritakan berbagai fenomena penyimpangan. Bukan hanya fenomena bestiality seperti telah disinggung di atas, melainkan juga fenomena spectrophilia. Apakah itu?

Spectrophilia adalah istilah medis yang merujuk pada kasus hubungan seksual yang subyek-pelakunya membayangkan fantasi seksnya dilakukan dengan makhluk gaib. Hah!? Bagaimana bisa? Tenang, Bro. Bukankah, pada konteks ini kita ingat narasi Babad Tanah Jawa yang berkisah tentang kisah asmara Panembahan Senapati dan Kanjeng Ratu Kidul, sang penguasa otoritas alam gaib di Laut Selatan itu, laiknya seorang suami-istri, sebagai tanda restu terhadap rencana pendirian Kerajaan Mataram-Islam. Terlepas kisah itu bisa ditafsirkan sebagai kontruksi legitimasi kekuasaan karena pudarnya kemampuan wangsa Mataram menguasai samudra dan budaya maritim, akan tetapi, suka tidak suka narasi asmara dan percintaan Panembahan Senapati dan Ratu Kidul itu tetap bisa dibaca dan dikelompokkan sebagai fenomena spectrophilia.

Nah, bicara Serat Narasawan dengan tebal 728 halaman itu boleh dikata sebenarnya mirip sebuah antologi cerita panjang. Naskah ini memuat 15 cerita: 12 cerita di antaranya bertopik bestiality dan 3 lainnya spectrophilia. Binatang yang jadi obyek seks antara lain: sapi, kerbau, kuda, kijang, kambing, monyet, orang utan, dan anjing. Sedangkan makhluk gaib yang jadi obyek seks: gendruwo dan peri. 15 judul cerita itu yaitu: 1) Jaka Koplo – Lembu estri; 2) Jaka Sudikda – Maesa; 3) Jaka Badri – Kapal; 4) Jaka Sutarja – Menda gembel estri; 5) Rejawilaya – Menjangan; 6) Jaka Sudiya – Menda Jawi; 7) Jaka Sumbima – Maesa bule; 8) Jaka Sudama – Lembu pohan; 9) Jaka Sukarma – Wawa estri; 10) Prawan adi – Rangutan; 11) Prawan Samirah – Munyuk gerang; 12) Jaka Sudiran – Segawon; 13) Prawan Sari – Gendruwo; 14) Sandangrawe – Peri Sari dan 15) Jaka Klungsur – Kuldi wadon.

Apa yang menarik kita garisbawahi di sini yaitu, antologi cerita panjang Serat Narasawan ini struktur narasinya mengingatkan kita pada cerita-cerita “stensilan” buah pena Enny Arrow kisaran 1990-an. Hah, apa pasal demikian? Bukan hanya perihal kontennya mirip, melainkan juga ilustrasi gambar-gambar vulgar yang menyertainya naskah itu sungguh tak jauh beda dengan karya-karya “stensilan” tersebut.

Boleh dikata seluruh kisah dalam naskah itu tanpa membawa muatan “pesan moral” sama sekali, hal yang terang tak lazim dalam penulisan khasanah klasik sastra Jawa. Struktur narasi hanya seputar kisah pemuasan libidinal belaka, dan bagaimana perilaku bestiality/spectrophilia itu kemudian membawa si tokoh-cerita menaiki tangga sosialnya secara instan. Konon diceritakan binatang yang digauli si tokoh-cerita tersebut pada akhirnya bunting dan punya anak, yang sedikit atau banyak membawa ciri-ciri manusia. Lahirnya “binatang anomali”, sebutlah demikian, kemudian mengundang kehebohan dan menjadi tontonan khalayak luas, serta ujung-ujungnya mendatangkan berkah dan banyak uang bagi tokoh-cerita itu. Struktur narasi 15 cerita itu selalu happy ending, tanpa dibebani keharusan teks itu membawa pembacanya pada medan refleksi kesadaran eksistensial.

Selain Serat Narasawan, naskah-naskah Jawa koleksi Moens lainnya, seturut analisis Rahmawati (2014) juga bernada sama, antara lain: Naskah Bhima Kacep, yang bercerita bahwa tokoh Bima atau Werkudara berhubungan seks dengan makhluk supranatural sekelas Dewa, yaitu Dewi Uma yang notabene adalah istri Dewa Siwa; naskah Bhima Ngambang, diceritakan tokoh ini berhubungan seks dengan buaya; juga masih ada naskah Bhima Wedhon, di sini kakak Arjuna itu diceritakan kawin dengan makhluk halus berupa wedhon, Nyai Demeng. Selain itu, dalam koleksi Moens yang lain berjudul Ars Amandi, ditulis beberapa kiat gaya bercinta yang menyerupai gaya hewan disertai beragam ilustrasi gambar secara vulgar.

Jelas, Serat Narasawan dan serat-serat lainnya koleksi Moens tersebut di atas bukanlah ‘head to head’ Serat Centhini, sekalipun yang terakhir sebenarnya juga sarat dengan fantasi erotisme cabul secara vulgar. Pasalnya pada Serat Centhini di sisi lain, masih sarat pitutur nilai-nilai spiritual Jawa sebagai pesan moralnya teks, termasuk topik seks. Bagi orang Jawa sebagaimana terlukiskan pada Serat Centhini, seks pada akhirnya tetaplah bukanlah fenomena biologis semata, melainkan justru bersifat aktivitas rohaniah sekaligus juga simbol spiritual. Sementara, Serat Narasawan konten isinya seks an sich, seks demi kesenangan seks itu sendiri.

Mudah diduga bahwa naskah-naskah koleksi Moens secara umum, juga termasuk Serat Narasawan, merupakan penulisan bertopik hedonisme Jawa. Namun demikian tetap susah diketahui, apakah naskah-naskah ini sebatas karya fiksi dan bersifat hiburan semata, atau merupakan salah satu potret realitas budaya Jawa pada zamannya. Juga susah menduga latarbelakang konteks dan tujuan penulisan serat-serat tersebut. Pada titik ini tentu dibutuhkan sebuah kajian sejarah diskursif tersendiri.

Terlepas daripada itu, yang jelas bisa dipastikan ialah bahwa sejak dulu secara diskursif budaya Jawa sejatinya beratmosfir liberal. Hal ini sebenarnya tersirat jelas dalam adagium ‘moral-imperatif’ budaya Jawa, “ngana ya ngana ning aja ngana”. Urusan moralitas bagi orang Jawa adalah sepenuhnya menjadi tanggungjawab kedewasaan pribadi masing-masing untuk menyikapinya dan tak perlu diatur-atur secara kaku, lebih-lebih secara dogmatis.

Tinggalkan Balasan