Compay Segundo

Pada tahun 2002, Compay Segundo didaulat sebagai duta cerutu Kuba. Dia menjadi juru bicara internasional untuk menikmati citarasa kebesaran cerutu Kuba.

Mungkin di Indonesia nama musisi satu ini jarang didengar. Bahkan ketika ia sudah tenar dengan grup bentukan Ry Cooder, Buena Vista Social Club. Tetap saja namanya tak setenar Gipsy Kings. Dia bukan hanya musisi besar yang sanggup membawakan sukacita dan emosi saat musik rakyat Kuba didendangkan. Lebih dari itu, berkat dia-lah cerutu Kuba terangkat secara membanggakan dan terkesan glamor. Dia jarang terlihat tidak memegang cerutu, kecuali tentu saja saat ia memetik Armonica, sebuah gitar berdawai tujuh yang mampu menambah kekayaan nuansa musiknya. Siapakah dia?

Ya, dialah Compay Segundo, sang legenda musik Kuba dan duta cerutu Kuba, wafat pada usia 95 tahun.

Compay dilahirkan di Siboney pada 18 November 1907 dengan nama Maximo Francisco Rapilado Muñoz. Pada umur sembilan tahun Compay pindah ke Santiago de Cuba. Di usia itulah Comapy pertama kali tampil bersama kelompok musik lokal yang disutradarai oleh gurunya, Enrique Bueno. Nama panggung depannya, Compay berasal dari bahasa slang di Kuba, compadre yang artinya “kawan”. Sedang Segundo mengacu suara harmoni bass yang dibawakannya.

Dia memulai karir musiknya pada tahun 1920 dengan beberapa maestro besar seperti Sindo Garay, Nico Saquito, Miguel Matamoros dan Benny Morê. Pada 1930-an dan 1940-an ia memainkan klarinet untuk kelompok El Conjunto Matamoros. Ia tidak memiliki kelompok sendiri sampai tahun 1956, ketika ia membentuk trio Compay Segundo y sus Muchachos.

Meskipun sudah terkenal di seluruh Kuba, namun ketenaran Compay sebagai musisi tidak mendunia. Hingga datang seorang Ry Cooder dan Wim Wanders yang memproduksi musik-musik Kuba dan menyatukannya dalam sebuah kelompok yang diberi nama Buena Vista Social Club. Proses produksi dan kehidupan keseharian anggota kelompok musik ini difilmkan oleh Wim Wanders dan dirilis dengan judul yang sama, Buena Vista Social Club.

Buena Viesta Social Club adalah berkah tersendiri bagi musisi-musisi senior yang tergabung di dalamnya. Selain Compay Segundo, kelompok itu beranggotakan Ibrahim Ferrer, Ruben Gonzales, dan Eliades Ochoa. Ketenaran Compay dan rekan-rekannya di Buena Vista Social Club segera mendunia. Selain mengantarkan mereka meraih Grammy Award pada tahun 1997, filmnya telah menaikkan status sosial mereka sebagai selebriti di Kuba. Setelah dirilisnya film itu Compay Segundo selalu diundang menghadiri gala dinner dan pesta cerutu yang diadakan di Kuba.

Sebelum terbentuknya Buena Vista Social Club, kehidupan Compay Segundo sebagai musisi di Kuba tidaklah mudah. Compay menambal kekurangan pendapatannya dari musik dengan bekerja sebagai pelinting cerutu. Compay sudah menjalani pekerjaan melinting sejak berusia 14 tahun. Dia mengaku bisa melinting hingga 300 cerutu sehari. Pada awal abad 20 cerutu Kuba mempunyai model kecil seperti panatella atau corona. Namun saat ini standar cerutu Kuba lebih besar. Seorang pelinting cerutu handal sekalipun paling hanya mampu menghasilkan 80 – 130 batang per hari. Dan pada sebuah wawancara dengan majalah Cigar Aficionado, Compay mengaku bahwa dia bukan seorang pelinting yang baik. Dia pernah dipecat oleh Ramon Cifuentes dari Partagas, perusahaan cerutu Kuba yang berdiri sejak 1845.

Harus diakui, sejak terbentuknya Buena Vista Social Club, pesona Compay sebagai selebriti memang tidak terelakkan. Saking populernya apapun yang disandang dan dilakukan Compay dalam kehidupan sehari-hari segera jadi panutan para penggemarnya. Suatu ketika pemimpin Kuba pernah dibuat heran oleh Compay Segundo saat seribu orang menyanyikan Chan-Chan bersama-sama dan dilanjutkan dengan melelang topi koboi ciri khasnya itu yang langsung laku 17.500 US Dolar. Fidel Castro hanya berkomentar “I can’t believe that someone paid $17,500 for Compay’s hat” dengan penuh keterkejutan. Dana yang didapat dari lelang topi itu diserahkan kepada otoritas kesehatan di Kuba.

Pada tahun 2002, Compay Segundo didaulat sebagai duta cerutu Kuba. Dia menjadi juru bicara internasional untuk menikmati citarasa kebesaran cerutu Kuba. Compay bukan juru bicara biasa. Minatnya yang begitu besar pada tembakau adalah alasan dibalik dia menerima tawaran sebagai duta cerutu Kuba. Karena kecintaannya pada tembakau inilah Compay kadang-kadang mengunjungi sahabatnya, Alejandro Robaina, seorang petani sekaligus ekspertis tembakau Kuba. Mereka sering terlihat duduk berdua di kebun sembari menikamati cerutu dan berbincang tentang kehidupan.

Pada suatu ketika Compay pernah ditanya tentang rahasia umur panjanganya. Saat itu diusianya yang 90 tahun itu dia masih nampak begitu bugar dan enerjik. Menjawab pertanyaan itu Compay berkata: “Boy, it’s very simple. I drink a lot, I smoke a lot and I fuck a lot.”

mm

Zulvan Kurniawan

Ketua Pekerja

Penikmat tembakau, teh, dan camilan yang renyah. Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK)