Bung Pram (masih) Orang Jawa

Dalam sejarah sastra Indonesia, pemilik nama lengkap Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai salah satu pengarang besar dan paling produktif. Selama hidupnya Bung Pram menghasilkan lebih 50 karya. Beberapa di antaranya diterjemahkan lebih dari 41 bahasa asing.

Jelas, bukan suatu kebetulan Bung Pram melahirkan “anak-anak rohaninya” itu. Bagi Bung Pram, setiap karya sastra adalah sebuah biografi penulisnya. Anak rohani itu lahir dari buah pengalaman batin pengarangnya yang dipersembahkan pada kolektivitas pengalaman umat manusia.

Bung Pram membedakan tiga model sastra. Pertama, sastra yang dilahirkan dari pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan, atau sekadar melegitimasi kasta penguasa. Kedua, sastra hiburan yang sekadar bermaksud memberi umpan pada impian-impian naluri purba pembacanya, agar khalayak luas tak punya perhatian pada jalannya kekuasaan. Ketiga, sastra avant garde, sebuah karya yang tidak saja bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang baru, harkat manusia, namun juga memberi penyadaran akan peran individu bagi masyarakatnya.

Bung Pram yang percaya tugas penulis adalah membuat evaluasi dan reevaluasi kemapanan pada setiap bidang kehidupan, sudah tentu karya-karyanya kental dengan narasi perlawanan. Semua karya Bung Pram bisa dipastikan mengusung spirit perlawanan. Baik terhadap segala bentuk eksploitasi dan ketidakadilan, juga terhadap segala bentuk konservatisme dan feodalisme budaya Jawa. Tak terkecuali juga berisi narasi penolakan akan segala irasionalitas, mitos dan dongeng mistik, tentang sejarah masa lalu bangsa Jawa.

Membaca narasi perlawanan pada karya-karyanya dan latar sejarah biografi Bung Pram memberi kesan kepada pembacanya, bahwa ia adalah sosok berkarakter kuat kukuh laksana karang. Bahkan lebih dari itu, yang menarik bahwa Bung Pram terlihat sepenuhnya mengagung-agungkan nalar dan rasionalitas, hal yang mengingatkan kita pada stereotip orang Barat yang sepenuh hati memeluk paham materialisme filosofi.

Benarkah, Bung Pram sudah sepenuhnya berhasil mengadopsi rasionalisme dan materialisme filosofis secara lahir maupun batin? Sehingga, Bung Pram pun sanggup mentransformasikan mentalitas ke-Jawa-annya dari relung bawah sadarnya, sehingga dengan begitu dapat dikatakan Bung Pram telah sepenuhnya melampaui cara pandang dunia Jawa, tanpa sisa sedikitpun?

Membaca sosoknya dari dekat, nampak Bung Pram sesunguhnya tak sepenuhnya mengamini rasionalisme dan materialisme. Penolakan Bung Pram terhadap segala irasionalitas dan fenomena mistis naga-naganya tak bisa dilepaskan begitu saja dari proses kesejarahan dirinya sendiri. Setidaknya pada momen-momen krisis atau meminjam istilah Karl Jaspers “situasi batas” toh Bung Pram tak segan-segan melakukan ritual mistik.

Kisah ini terungkap dalam buku “Pram Melawan”, yang ditulis Hasudungan Sirait, Rin Hindryati, dan Rheinhardt Sirait. Buku ini merupakan hasil wawancara intensif sejak 2001 hingga 2004, selain memperlihatkan banyak sisi manusiawi pengarang besar ini, juga mengungkap bagaimana Bung Pram sebenarnya masih melakoni laku mistik sebagaimana dilakukan para penghayat kebatinan Jawa. Sementara logika mistisisme per se, menurut kesimpulan para antropolog, adalah saripati agama Jawa.

Ditulis bahwa Bung Pram, dalam momen “situasi batas” eksistensial tak hanya biasa melakukan meditasi atau samadi, bahkan semenjak kecil beliau belajar dari Ibundanya sebuah ritual mistik Jawa. Namanya (ngilmu) patirogo. Diceritakan karena Bung Pram pernah intens melatih ngilmu itu, sehingga dia bisa memiliki kemampuan bertemu Ayahandanya atau Ibundanya yang notabene senyatanya sudah meninggal. Bahkan, seturut tuturan Bung Pram, roman sejarah “Arok-Dedes” itu lahir setelah ia ber-patirogo dan bertemu almarhum Ayahandanya yang mengatakan padanya: “Engkau jebul-nya Ken Arok”. Sementara laku samadi atau meditasi Bung Pram lakukan dengan tujuan mengosongkan pikiran, perasaan dan memurnikan diri.

Tak berlebihan sekiranya Bung Joesoef Isak, sahabat dekat Bung Pram itu meyakini bahwa sobatnya memiliki semacam indera keenam atau semacam kekuatan mistis.

Benar, gambaran tentang sosok Bung Pram terkesan kontradiktif. Ini sebenarnya mudah dipahami. Bung Pram adalah manusia yang jelas tak mungkin dibuat satu rumusan definitif secara mutlak. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk paradoks, yang bisa jadi punya dua kecenderungan berbeda sekaligus dan hal itu bisa jadi adalah sama-sama benarnya. Meskipun barangkali kurang tepat, dengan meminjam perspektif Sigmund Freud, setidaknya di sini bisa diduga: Aspek sadar Bung Pram adalah nalar rasionalitas, sementara aspek bawah sadarnya adalah nalar genetik sebagai manusia Jawa yang tetap memerlukan hadirnya ruang irasionalitas dan laku mistik.

Benar, budaya Jawa seperti penilaian dan anggapan Bung Pram dalam banyak hal adalah fenomena dekadensi. Namun demikian budaya Jawa sebenarnya masih menyimpan ide-ide progresif, setidaknya terkait dengan keragaman dunia batin manusia. Ya, selain relatif memiliki ruang otonomi bagi hadirnya keragaman keyakinan, pandang dunia atau agama, budaya Jawa juga dikenal piawai mengintegrasikan hal-hal yang sesungguhnya bertentangan itu menjadi satu keutuhan. Ya, itulah nalar sinkretisme Jawa; sebuah kecenderungan nalar budaya Jawa yang pernah sohor di kalangan para antropolog dan Indonesianis.

Tak aneh jika mengenang zaman pergerakan nasional di awal abad 20, kita mengenal istilah “Marxis Blangkonan”. Istilah ini merujuk pada para aktivis pergerakan Kiri yang konon menganut paham materialisme filosofis, namun ternyata masih suka melakukan ritual mistik Jawa. Dan konon tokoh sekaliber Muso dan Alimin selain tentu seorang Marxis juga adalah penganut laku mistik Jawa yang khusyuk. Apakah demikian juga dengan Bung Pram?

mm

www.bolehmerokok.com

Bolehmerokok adalah ruang berisi cerita dan informasi ringan, tempat untuk bersantai tanpa harus curiga.