Beberapa Menit Yang Membahagiakan Dalam Perjalanan Kereta Api

Di tempat khusus merokok pada ujung peron stasiun, selalu ada wajah-wajah yang riang menikmati sebatang rokok.

Bagi kita yang terbiasa menggunakan kereta api sebagi moda transportasi perjalanan jauh di pulau Jawa, ada waktu yang bisa dikatakan membahagiakan bagi para perokok. Waktu itu adalah pemberhantian sementara di beberapa stasiun yang memungkinkan bagi kita perokok untuk sekadar menikmati satu batang rokok.

Waktu tempuh Jakarta – Jogja yang memakan waktu sekitar delapan jam lamanya dengan kereta api, biasanya akan berhenti di stasiun Cirebon dan Purwakarta. Ada jeda waktu yang cukup di kedua stasiun tersebut. Mungkin hanya sekitar 5 menit di tiap stasiun, dan itu waktu yang tepat bagi perokok untuk keluar dari kereta dan mengisap rokok bersama orang-orang lain.

Saat Ignasius Jonan menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Persero, dia mengeluarkan kebijakan untuk tidak memperbolehkan merokok di kereta api sepanjang perjalanan. Tak boleh di restorasi, tak boleh di bordes, bahkan di toilet pun tak boleh. Bagi yang tertangkap merokok di kereta api, diancam akan diturunkan di stasiun terdekat.

Ancaman atau hukuman yang mungkin jelas berlebihan, mengingat kerugian yang diterima oleh perokok tersebut begitu besar karena harus diturunkan di stasiun terdekat, sementara dampak dari aktivitasnya merokok tak membuat orang lain mengalami kerugian yang begitu besar. Toh merokok di kereta api juga tak akan dilakukan saat ia sedang duduk di gerbong penumpang.

Walhasil, beberapa jam perokok akan manyun. Mungkin ada saja orang yang mencuri kesempatan merokok di toilet, tapi juga banyak yang tak mau melakukan itu lantaran seperti sedang melakukan kegiatan yang hina karena harus ngumpet-ngumpet untuk mengkonsumsi barang legal. Sehingga waktu pemberhentian di beberapa stasiun besar menjadi kesempatan yang tak akan ditinggalkan begitu saja oleh para perokok.

Tak semua perokok akan keluar dari kereta saat berhenti sebentar, banyak pula yang tetap memilih untuk tak beranjak dari tempat duduk. Mungkin malas karena waktunya yang sedikit mepet, atau juga mungkin memang mereka bisa menahan rasa ingin merokok. Tak sulit kok menahan untuk tak merokok selama delapan jam. Itu seperti halnya seorang perokok yang sedang berpuasa, lebih dari 12 jam mereka mampu menahan diri untuk tidak merokok.

Kadang kala bukan hanya para penumpang saja yang menggunakan kesempatan itu, tapi para awak kereta api sering juga menikmati waktu singkat tersebut. Namun dibalik waktu yang sangat sempit untuk menikmati sebatang rokok yang kadang juga tak sampai habis lalu kereta api sudah kembali berjalan, ada satu bukti tentang bagaimana perokok di negeri ini telah memiliki kesadaran yang tinggi untuk tertib dan mematuhi aturan yang berlaku.

Stigma bahwa perokok sering kali dianggap sebagai orang yang berperilaku egois dan mau menang sendiri, tak peduli dengan orang-orang disekitar, bisa dikatakan terbantahkan. Perokok pada dasarnya mau diatur dan akan tertib, selama aturan dan kebijakan yang dibuat juga memperhatikan hak-hak mereka sebagai perokok.

Ada memang suara-suara kritis atas kebijakan pelarangan merokok di kereta api yang menuntut adanya gerbong khusus merokok. Mungkin maksudnya mengembalikan seperti dahulu, ketika restorasi menjadi gerbong yang diperbolehkan untuk orang merokok. Satu tuntutan yang sebenarnya tidaklah mengada-ada atau berlebihan.

Toh kenyataannya pada saat aturan itu belum ada, restorasi tak selalu dipenuhi oleh orang perokok yang mengakibatkan satu gerbong penuh dengan asap. Tak sebrutal itu para perokok, mereka juga tahu diri. Mereka biasanya hanya menikmati satu dua batang rokok sembari memesan minuman atau makanan, lalu kembali lagi ke tempat duduknya.

Entah apa pula dasar kebijakan itu dibuat, namun rasanya tak ada keluhan dari para penumpang kereta api yang terganggu dengan aktivitas penumpang lain yang merokok. Tak akan juga perokok mengisap rokoknya saat ia duduk di gerbong penumpang. Tak sebrutal itu para perokok.

Kembali lagi ke waktu singkat untuk menikmati rokok di pemberhentian sementara. Di tempat khusus merokok pada ujung peron stasiun, selalu ada wajah-wajah yang riang menikmati sebatang rokok. Sedikit berbincang dan saling menyapa antar penumpang, meminjam korek api, atau bahkan meminta rokok dari penumpang lain. Ada juga yang asik sendiri menikmati rokoknya, tanpa

Begitu pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat, maka bergegaslah mematikan rokok, lalu menaiki lagi kereta api. Kembali ke tempat duduk semula, entah bermain handphone, tidur, membaca, nonton tv, atau melanjutkan perbincangan dengan teman sebangku yang sempat terpotong saat kereta berhenti.

Ini juga membuktikan bahwa rokok bukanlah candu yang akan membuat orang menjadi sakau jika tak mengkonsumsi rokok. Rokok adalah candu hanya stigma dan propaganda dari kelompok antirokok yang ingin barang legal ini tak ada, dan tak bisa dinikmati orang sebagai sarana relaksasi yang mudah, murah, dan cepat.

mm

Alfa Gumilang

REDAKTUR

Mantan Sekjend Komunitas Kretek. Saat ini aktif di Komite Nasional Pelestarian Kretek dan juru kunci portal Kabar Buruh.