Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus

Bangunan menara masjid Kudus terlihat mencerminkan adanya interaksi budaya Jawa, Hindu dan Islam. Hal ini tidak terlepas dari tujuan sang pendiri yaitu Ja’far Shodiq (Sunan Kudus).

Selain dikenal sebagai kota kretek, Kudus juga tersohor dengan bangunan menara masjid al-Aqsho yang berdiri sejak tanggal 19 Rajab 956 H, atau 23 agustus 1549 dalam kalender Masehi. Didirikan oleh ulama besar bernama Ja’far Shodiq yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Menara masjid al-Aqsho bisa dikatakan menjadi salah satu identitas dan simbol dari kota kretek, Kudus. Ia terletak di Desa Kauman Kecamatan Kota, tidak jauh dari jantung kota Kudus sekitar ± 1 km arah barat. Hanya dengan mengeluarkan ongkos sebesar 5-10 ribu dengan naik becak, atau 3.500 ribu naik angkutan kota, anda akan sampai di majid tersebut.

Bangunan menara masjid Kudus terlihat mencerminkan adanya interaksi budaya Jawa, Hindu dan Islam. Hal ini tidak terlepas dari tujuan sang pendiri yaitu Ja’far Shodiq (Sunan Kudus). Banyak anggapan bahwa bangunan menara masjid al-Aqsho Kudus adalah salah satu strategi untuk penyebaran agama Islam di Kudus, dengan memanfaatkan simbol-simbol agama Hindu.

Selain menara, terdapat simbol pancuran – aliran air untuk berwudlu – yang menyerupai lambang delapan jalan Budha. Lain halnya itu, konon cerita yang beredar di tengah-tengah masyarakat, bahwa pendiri menara masjid Kudus menobatkan salah satu hewan peliharaannya berupa sapi yang diberi nama “Gumarang”, sebagai peliharaan yang tidak boleh disembelih.

Sapi tersebut dahulu diletakkan di halaman sekitar menara masjid. Dalam kepercayaan agama Hindu, sapi adalah binatang suci yang tak boleh disembelih. Nilai-nilai tersebut tak lepas dari kepercayaan dan ajaran agama Hindu bahwa Sapi merupakan lambang dari ibu pertiwi yang memberikan kesejahteraan kepada semua makhluk hidup di bumi ini.

Terlepas strategi atau bukan, Sunan Kudus berhasil mengkompromikan adat istiadat dan budaya yang berbeda dalam satu kemasan, yaitu menara masjid dan larangan menyembelih sapi. Menara masjid Kudus tergolong unik, tidak seperti Menara masjid pada umumnya. Arsitektur bercorak seperti candi-candi Hindu khas Jawa timur. Bentuknya ramping, tinggi, berbahan batu bata dengan didahului dua gapura model bentar – bangunan kuno berupa gapura atau gerbang yang tidak mempunyai atap – sebelum masuk area menara.

Pelarangan penyembelihan hewan sapi bukanlah perintah agama Islam, melainkan keputusan Sunan Kudus untuk menghormati masyarakat Kudus yang beragama Hindu. Hewan sapi bagi pemeluk agama Hindu sangat diagungkan dan disucikan, sehingga dilarang disembelih dan dimakan dagingnya.

Hewan sapi bagi mereka (pemeluk agama Hindu) di masukkan dalam kategori yang harus dihormati seperti Ibu karena sapi merupakan hewan yang diambil air susunya. Begitu juga hewan sapi yang diyakini sebagai kendaraan Dewa Siwa. Selanjutnya bagi umat Hindu meyakini jika memakan daging sapi akan menderita di neraka selama ratusan tahun.

Pelarangan menyembelih sapi bagi umat Islam oleh Sunan Kudus adalah bentuk penghormatan terhadap kayakinan agama lain, tidak lain bertujuan agar hidup berdampingan, damai, tentram dan saling menghormati. Pada akhirnya pelarangan menyembelih sapi diamini oleh sebagian besar umat Islam di Kudus hingga sekarang. Bahkan dipercaya, jika menyembelih sapi akan mendapatkan malapetaka.

Alkisah, diceritakan oleh Kiai Abdurrokhim Auf salah satu tokoh masyarakat desa Karangbener, belum lama sekitar tahun 2011, di desanya menyembelih sapi pada acara Qurban. Sebelumnya, dalam rapat kepanitiaan sudah diperingatkan agar tidak menyembelih sapi, namun peringatan tersebut tidak diindahkan. Singkat cerita, orang yang membelikan sapi dan orang yang menyembelih sapi mendapatkan petaka jatuh sakit hingga meninggal dunia. Anehnya, sakit yang diderita keduanya tidak diketahui penyebab dan jenis penyakitnya hingga dari salah satu korban badanya membusuk.

Sekali lagi, bentuk pelarangan menyembelih sapi Sunan Kudus bukanlah pelarangan menurut syara (agama). Namun, pelarangan tersebut bermuatan positif untuk kerukunan antar umat beragama di Kudus. Muatan positif itu seperti ketika orang tua melarang minum es pada putra-putri kecilnya karena akan berakibat batuk, flu dan badan panas. Walaupun hal tersebut belum tentu terjadi, namun setidaknya apa yang dikatakan orang tua adalah petuah yang sepantasnya didengar dan dilaksanakan untuk kebaikan.

Tradisi budaya toleran umat Islam di Kudus masih dirasakan hingga sekarang, ketentraman, kedamaian dan hidup berdampingan antar umat beragama masih terlihat. Tidak jauh, sebelah timur dari menara ± 300 m berdiri bangunan klenteng menghadap ke Menara masjid.

Pada era Orde Baru, klenteng tersebut berfungsi seperti Vihara (tempat beribadah agama Budha). Alih fungsi terjadi sebagai tempat peribadatan agama Kong Hu Chu atau Tao, semenjak reformasi tepatnya pada era presiden Abdurrahman Wahid. Sementara di sebelah utara menara masjid ± 600 m terdapat gereja aliran Protestan.

Pemeluk masing-masing agama hidup saling menghormati dan saling menghargai. Sebagai pemeluk mayoritas, umat Islam di Kudus menjaga tradisi yang telah diwariskan leluhur, yaitu menjaga keberadaan menara masjid al-Aqsho sebagai bangunan yang menggambarkan akulturasi budaya. Pada umumnya umat Islam Kudus melestarikan budaya “tidak menyembelih sapi” pada acara apapun, seperti halnya yang telah dilarang oleh Sunan Kudus.

Sebagai tokoh ulama di Kudus, K.H. Sya’roni Ahmadi dalam pengajiannya di masjid menara Kudus mengajak umat Islam untuk hidup rukun sesama pemeluk agama Islam dan antar umat beragama. K.H. Sya’roni Ahmadi juga mengajak masyarakat Kudus untuk melestarikan warisan budaya yang telah diberikan dari para leluhur (ulama’terdahulu), salah satunya tradisi tidak menyembelih sapi dan digantikan dengan menyembelih kerbau.

Hingga sekarang, di tengah-tengah masyarakat Kudus, tradisi budaya tidak menyembelih sapi sangat kuat. Di Kota ini juga jarang dijumpai peredaran daging sapi, kalaupun ada, rata-rata impor dari kota lain dan itupun hanya untuk kebutuhan bahan baku bakso. Untuk kuliner soto rata-rata memakai daging kerbau dan ayam. Bahkan di Kudus kota kretek terdapat kuliner sate kerbau dengan tekstur daging sangat empuk, tidak ada di kota-kota lain.

Sampai saat ini, masyarakat Kudus masih berpegang teguh dengan tidak menyembelih sapi, sebagai warisan budaya yang telah dilakukan para leluhur, demi mewujudkan kerukunan umat beragama.

mm

Udin Badruddin

KONTRIBUTOR

Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).